TEMPO.CO, London - Wanita yang menjalani shift dalam bekerja kemungkinan akan terpengaruh kesuburan dan periode menstruasinya. Sementara jam kerja malam yang terus-menerus akan menyebabkan para pekerja wanita mengalami keguguran dalam kehamilannya.
Temuan ini mendukung pernyataan sebelumnya yang mengatakan bahwa "Bagi para wanita yang ingin hamil secara sehat, kegiatan rutin adalah sebuah keharusan," ujar Dr Jill Rabin, chief of ambulatory care yang juga ginekolog di Long Island Jewish Medical Center, di New Hyde Park, New York. Namun, dia tidak terlibat dalam riset terbaru ini.
Dalam riset terbaru ini, para peneliti Inggris menganalisis semua hasil riset pada pekerjaan dengan sistem shift berkaitan dengan reproduksi yang dipublikasikan pada 1969 hingga 2013. Data atas lebih dari 119 ribu wanita mengungkapkan bahwa bekerja dalam shift (bergantian waktu bekerja, kadang masuk pagi dan kadang masuk malam) mempunyai risiko 33 persen lebih tinggi untuk mengalami problem menstruasi dan 80 persen lebih tinggi berisiko mengalami masalah kesuburan dibandingkan dengan mereka yang bekerja pada jam kerja normal.
Wanita yang bekerja hanya di malam hari tidak menunjukkan kenaikan secara statistik pada masalah menstruasi atau kesuburan, tetapi mereka mengalami kenaikan risiko keguguran, demikian hasil penelitian seperti yang dikutip dari situs Health Day edisi 10 Juli 2013. Namun, risiko keguguran yang lebih besar ini tidak terlihat pada wanita yang bekerja malam sebagai bagian dari pola shift kerja mereka.
Hasil riset ini dipresentasikan pada 9 Juli 2013 dalam pertemuan tahunan European Society of Human Reproduction and Embryology di London.
Menurut para periset, salah satu penjelasan yang mungkin atas kenaikan risiko ini adalah bahwa bekerja dalam shift mengganggu ritme sirkadian tubuh seseorang yang bisa mempengaruhi fungsi biologis dari jam gen yang ditunjukkan dengan perubahan fungsi biologis.
Penelitian sebelumnya menemukan bahwa bekerja dalam shift bagi wanita bisa berefek membahayakan kehamilan, ujar penulis hasil riset dalam siaran persnya. Jika direplikasikan dalam penelitian lanjutan, "Temuan baru ini mempunyai dampak bagi wanita yang ingin hamil juga berpengaruh pada tempat kerja mereka," ujar ketua tim Dr. Linden Stocker dari University of Southampton.
"Stres, di dalam maupun di luar pekerjaan, bisa mengubah siklus normal produksi hormon wanita, yang berkontribusi pada hasil reproduksi yang kurang baik, gangguan menstruasi, rendahnya bayi yang dilahirkan, ketidaksuburan dan bayi lahir prematur," kata Dr. Kecia Gaither, director of maternal fetal medicine di Brookdale University Hospital and Medical Ceter di New York City.
HEALTH DAY | ARBA'IYAH SATRIANI
Anda sedang membaca artikel tentang
Bekerja Secara Shift Pengaruhi Periode Menstruasi
Dengan url
https://metropolitstyl.blogspot.com/2013/07/bekerja-secara-shift-pengaruhi-periode.html
Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya
Bekerja Secara Shift Pengaruhi Periode Menstruasi
namun jangan lupa untuk meletakkan link
Bekerja Secara Shift Pengaruhi Periode Menstruasi
sebagai sumbernya
0 komentar:
Posting Komentar