Lalai, Ashanty pun Terserang Radang Otak

Written By Unknown on Rabu, 06 Maret 2013 | 10.19

Rabu, 06 Maret 2013 | 03:46 WIB

TEMPO.CO , Jakarta: Terbaring dua pekan di rumah sakit akibat radang selaput otak alias meningitis, penyanyi Ashanty mengakui kelalaiannya. Secara blak-blakan, perempuan 29 tahun ini menunjuk keengganannya melakukan vaksinasi meningitis sebelum umrah sebagai biang mencloknya penyakit itu. Suntikan pencegahan serupa juga tak mampir di tubuhnya saat ia melakukan perjalanan ke Afrika.

"Jujur, waktu umrah sama Mas Anang, aku enggak suntik meningitis," kata Ashanty di kantor Indigo, Jakarta, Jumat pekan lalu. Bersama suaminya, Anang Hermansyah, Ashanty melakukan umrah ke Tanah Suci pada Mei tahun lalu. Aturannya, siapapun yang akan umrah harus mendapat suntikan vaksin meningitis. Jika vaksinasi didapat, perlindungan terhadap serangan meningitis bisa bertahan hingga tiga tahun. Saat umrah itulah, Ashanty melalaikan kewajiban untuk menjalani vaksinasi meningitis.

 "Ashanty ikut saya. Jadi, saya yang salah, jangan diikuti," kata Anang pada kesempatan yang sama. Kini, keduanya menganggap serangan meningitis tersebut sebagai teguran atas kelalaian yang sempat mereka lakukan. Secara khusus, Ashanty berpesan kepada siapapun untuk mengikuti prosedur saat hendak ke luar negeri, termasuk menjalani vaksinasi meningitis. "Aku yang sudah merasakan sendiri. Buat teman-teman yang mau ke luar negeri, pokoknya harus suntik," katanya.

 Pentingnya vaksinasi sebelum bepergian, bisa berupa wisata, umrah, dan sebagainya, juga ditekankan oleh pakar alergi imunologi klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, dokter Iris Rengganis. Maklum, migrasi manusia dalam perjalanan dapat meningkatkan frekuensi kontak fisik sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit, seperti meningitis, tetanus, tuberkulosis, hepatitis,  HIV/AIDS, Japanese Encephalitis, dan malaria. "Tanpa perlindungan, penyakit-penyakit itu bisa menimbulkan kecacatan, bahkan kematian," kata Iris dalam diskusi bertajuk "Nyaman Berwisata, Lindungi Diri dengan Vaksinasi," di Jakarta, pertengahan Februari lalu.

Khusus mengenai meningitis meningokokus, Iris menjelaskan, penyakit ini disebabkan oleh bakteri neisseria meningitidis yang bisa ditularkan melalui udara  lewat percikan air liur saat berbicara, batuk ataupun bersin dari penderita (carrier) meningitis. Meningitis dapat ditularkan melalui ciuman, berbagi makan dengan menggunakan satu sendok, pemakaian sikat gigi secara bersama, atau merokok bergantian dalam satu batang. Karena yang diserang adalah otak maka infeksi penyakit ini bisa menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan berujung pada kematian.

 Meningitis merupakan suatu infeksi yang terjadi pada selaput otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kematian dalam hitungan jam, yakni 2 x 24 jam. Meningitis merupakan masalah kesehatan dunia karena tingkat penyebarannya sangat cepat. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), rata-rata 5-10 persen dari orang yang terkena penyakit ini akan meninggal, walaupun mereka terdiagnosa dan telah mendapatkan pengobatan dini yang tepat.

Penyakit meningitis banyak ditemukan di daerah Afrika dan sub Sahara. Wilayah yang dikenal dengan "sabuk meningitis" di benua ini membentang dari Senegal di sebelah barat sampai Kenya di sebelah timur. Meningitis bisa menyebar ke daerah lain melalui seorang pembawa penyakit yang sempat singgah di benua hitam tersebut. Ibadah umrah atau haji yang memungkinkan jemaah dari berbagai belahan dunia bertemu, termasuk dari anggota jemaah dari kawasan sabuk meningitis, merupakan salah satu risiko penularan. Itu sebabnya, vaksinasi meningitis menjadi sangat penting. Tanpa vaksinasi, itu tadi, dikhawatirkan banyak orang yang pulang dari umra atau haji membawa "oleh-oleh" penyakit.

 "Anggota jemaah ini juga yang menjadi pembawa meningitis ke Indonesia," kata Iris. Orang yang terinfeksi, bisa saja terlihat sehat. Namun, tanpa disadari, ia membawa pulang penyakit meningitis yang tersimpan di daerah tenggorokan, dan berpotensi menularkan kepada orang-orang di sekitarnya. Bakteri penyebab meningitis memang bisa bertahan di tenggorokan selama beberapa waktu (carrier), walau kondisi si pembawa penyakit ini terlihat sehat. Sekali terjangkit, seseorang dapat membawa bakteri selama 6 sampai 12 bulan. Kurang dari 1 persen dari para pembawa yang terserang penyakit ini, tetapi mereka dapat menyebarkan bibit penyakit itu kepada orang lain.

Iris menjelaskan, gejala meningitis seringkali tidak spesifik dan mirip flu. Itu sebabnya, para tenaga profesional pun tidak gampang mendiagnosis penyakit ini secara dini. Gejala-gejala yang timbul adalah demam, muntah, sakit kepala berat, leher kaku dan sakit. Juga ada gejala lain, seperti sensitif terhadap cahaya, sangat mengantuk, bingung, ruam dan kejang.

Pengobatan meningitis adalah menjalani rawat inap dan terapi antimikroba. Antibiotik seperti penisilin, ampisilin, chloramphenicol dan ceftriaxone lazim digunakan. Meski begitu, lantaran  berkembangnya penyakit meningokokus terbilang cepat, maka pengobatan kerap menjadi sangat sulit, meski sudah diberikan terapi antibiotik yang kuat sekali.

Lalu, bagaimana agar meningitis tidak menclok di tubuh? Menurut Iris, cara paling efektif untuk mencegah dan mengendalikan penyakit meningkokus, ya, melalui vaksinasi meningitis. Peringatan Ashanty sebagai salah satu korban serangan penyakit ini pantas dicamkan: "Aku sudah merasakan sendiri. Buat teman-teman yang mau ke luar negeri, pokoknya harus suntik."

 DWI WIYANA | NANDA HADIYANTI | MITRA TARIGAN


Anda sedang membaca artikel tentang

Lalai, Ashanty pun Terserang Radang Otak

Dengan url

http://metropolitstyl.blogspot.com/2013/03/lalai-ashanty-pun-terserang-radang-otak.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Lalai, Ashanty pun Terserang Radang Otak

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Lalai, Ashanty pun Terserang Radang Otak

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger