Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Tiga Makanan Pemicu Depresi

Written By Unknown on Minggu, 08 Desember 2013 | 10.19

TEMPO.CO , Seattle - Bukan rahasia lagi bahwa kita cenderung makan makanan sehat lebih sedikit pada saat liburan. Banyak dari kita mengalami kesulitan untuk memilih menu sehat itu. Berdasarkan penelitian, kemungkinan kesulitan memilih makanan sehat dapat dikaitkan dengan depresi. Berikut 3 makanan yang harus dihindari.

Pasta

Pasta adalah makanan cepat saji. Memang bagus untuk malam sibuk yang memberikan waktu sempit bagi Anda dalam mempersiapkan makan malam. Tetapi akan tidak bagus jika menu ini dikonsumsi setiap makan malam.

Pasta maupun bagels adalah makanan yang dapat menyebabkan radang. Menurut studi pada Oktober lalu dalam jurnal Brain, Behavior and Immunity disebutkan bahwa makanan ini dikaitkan dengan depresi pada wanita usia 50 sampai 77 tahun.

Dalam studi tersebut, peneliti melihat kebiasaan makan pada lebih dari 40 ribu perempuan yang tidak mengalami depresi pada awal penelitian. Ternyata, responden yang mengkonsumsi makanan penyebab inflamasi ini justru dapat menderita depresi pada saat akhir penelitian.

Soft Drink

Saat Anda berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, apa yang akan Anda beli untuk menghilangkan haus? Kebanyakan kita akan mengambil minuman ringan seperti cola. Studi pada jurnal yang sama menunjukkan bahwa minuman ringan jika dijadikan bagian dari kehidupan sehari-hari dapat menyebabkan depresi.

Makanan Cepat Saji

Orang yang mengkonsumsi makanan cepat saji lebih mungkin terkena depresi. Namun Anda tak perlu panik jika daftar makanan diatas dikonsumsi dalam jumlah yang sangat kecil. Namun jika makanan-makanan tersebut sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari, saatnya Anda perlu lakukan diet drastis.

LIVE SCIENCE | ISMI WAHID


Berita lain:
Lagi, Beredar Foto Mesra Ariel-Sophia di Stasiun  
Kutang Lancip Agnes, Indah tapi Berbahaya
Wanita-wanita di Sekeliling Ariel 
Sophia Latjuba, dari Foto Topless hingga Produser
Setelah Tabrakan, Paul Walker Bertahan Beberapa Detik
Tweet Romantis Ariel Setelah Foto Mesra Beredar
Puing Porsche Paul Walker Jadi Sasaran Pencuri 


10.19 | 0 komentar | Read More

Bakteri Usus Sedikit, Hati-Hati Kena Kanker

TEMPO.CO, New York --- Seseorang yang memiliki populasi bakteri kurang beragam dalam saluran pencernaan, lebih mungkin terkena kanker usus besar. Para peneliti juga menemukan bahwa seseorang yang didiagnosis kanker usus besar ini hanya memiliki sedikit bakteri menguntungkan dibandingkan dengan orang sehat.

"Untuk pertama kalinya, kami menemukan bahwa pasien kanker usus besar memiliki komposisi bakteri usus yang berbeda dibandingkan orang sehat," kata penulis studi Jiyoung Ahn, asisten profesor epidemiologi di NYU School of Medicine di New York. Penelitian ini adalah tahap awal mencermati mikroba usus yang terlibat dalam perkembangan kanker usus besar. Penelitian ini dipublikasikan online dalam Journal of the National Cancer Institute.

Usus manusia berisi triliunan bakteri yang berperan dalam pencernaan, peradangan maupun imunitas. Para peneliti baru mulai memahami bagaimana perbedaan komposisi bakteri dalam usus dapat mempengaruhi kesehatan.

Dalam studi tersebut, peneliti mencermati sampel tinja dari 47 orang yang didiagnosis kanker usus besar. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan sampel 94 orang dewasa sehat tanpa penyakit. Mereka membandingkan mikroba usus pada sampel dengan menganalisis DNA mereka.

Hasil penelitian menemuakn bahwa sampel tinja orang yang menderita kanker usus besar memiliki keragaman bakteri yang lebih sedikit dibandingkan dengan individu sehat. "Jumlah keanekaragaman bakteri dalam usus yang rendah menunjukkan kurangnya keseimbangan populasi bakteri yang kompleks disana," kata Ahn.

Para peneliti juga menemukan pada sampel tinja pasien kanker usus besar cenderung memiliki bakteri Fusobacterium dalam jumlah besar. Jenis bakteri ini muncul ketika terjadi peradangan usus yang dapat mendorong pertumbuhan kanker. Dan pasien justru memiliki jumlah bakteri Clostridia yang rendah. Kelas bakteri ini dapat mencegah perkembangan kanker usus dengan membantu memecah serat makanan dan karbohidrat.

Ahn mengatakan bahwa penelitian lanjut dapat memberikan informasi untuk mengubah bakteri usus demi meningkatkan kesehatan. Beberapa faktor yang diduga dapat mempengaruhi jumlah keragaman bakteri usus meliputi sumber makanan kaya serat, seperti buah-buahan, sayuran dan kacang-kacangan.

LIVE SCIENCE | ISMI WAHID

Berita Lainnya:



10.19 | 0 komentar | Read More

Empat Kebiasaan 'Pengundang' Flu  

Written By Unknown on Jumat, 06 Desember 2013 | 10.19

TEMPO.CO, New York - Musim penghujan identik dengan melonjaknya serangan influenza. Menurut Dr Roshini Raj, ilmuwan di New York University Medical Center, sebetulnya flu tak kenal musim. "Namun, banyak orang tanpa disadari melakukan aktivitas yang menempatkan mereka pada risiko untuk terserang virus flu," katanya.

Bahkan, katanya, jika berpikir Anda melakukan segalanya dengan benar, tak selamanya berarti demikian. "Ada kebiasaan tertentu yang kita lakukan yang mungkin tidak begitu besar, tapi justru langkah itulah yang mendatangkan flu," katanya.

Ia menyebut salah satunya adalah dengan menenteng gel pembersih tangan antibakteri kemana-mana dan membersihkan tangan secara berkala dengan gel itu. "Asal Anda tahu, gel itu tidak mampu membunuh virus," katanya.

Gel pembersih, katanya, bukan pengganti untuk mencuci tangan. "Hanya cara kuno dengan sabun dan air yang benar-benar dapat membunuh bakteri dan virus, atau setidaknya menghapus mereka dari tangan Anda lebih efektif," ujar Raj.

Gel bisa efektif, katanya, asalkan terbuat dari setidaknya 60 persen alkohol, etanol, atau isopropanol. Menggunakannya juga harus secara efektif dengan menggosok kuat-kuat dan menunggu hingga kering.

Yang kedua, katanya, kalau pun air dan sabun tersedia, mereka tak melakukannya dengan benar. "Penelitian telah menunjukkan banyak orang tidak mencuci tangan mereka setelah mereka batuk atau bersin, atau menyiapkan makanan dan pergi ke kamar mandi," kata Raj. Dua puluh detik dan menggosok seluruh bagian tangan adalah cara mencuci tangan yang benar.


10.19 | 0 komentar | Read More

Hanya Jumlah Uang Ini Bisa Membeli Kebahagiaan  

TEMPO.CO, New York - Uang bisa membeli kebahagiaan, tetapi jika jumlahnya tak lebih dari US$ 36 ribu atau sekitar Rp 400 juta. Besaran itu ditentukan lewat penelitian terbaru dengan melihat gross domestic product (GDP) atau produk domestik bruto per orang. Meskipun GDP bukanlah ukuran penghasilan perorangan, tetapi sering kali dipertimbangkan sebagai indikator dari biaya hidup di sebuah negara.

Seperti yang diperkirakan, analisis data global menunjukkan bahwa kenyamanan hidup di negara-negara miskin meningkat. Namun, para ilmuwan, seperti dikutip situs Health Day edisi 27 November 2013, terkejut dengan temuan bahwa untuk orang-orang di negara maju, kenyamanan hidup ada batasnya.

Kenyamanan mencapai puncaknya saat negara mereka mencapai GDP sekitar US$ 36 ribu per orang. Lebih dari jumlah tersebut, ada sedikit penurunan kenyamanan hidup.

Penurunan ini kemungkinan terjadi karena orang yang mempunyai lebih banyak uang menciptakan ambisi yang lebih besar dan menyebabkan kekecewaan ketika tujuan tidak tercapai. Hasil riset ini dipublikasikan online dalam jurnal PLoS One edisi 27 November 2013.

Menurut ketua tim peneliti, Eugenio Proto, ekonom di University of Warwick di Inggris, ada keinginan untuk memupuk kekayaan karena orang melihat kesejahteraan dan kesempatan di sekitar mereka. "Namun jurang aspirasi ini, perbedaan antara income yang sebenarnya dan income yang diharapkan, menurunkan level kenyamanan," kata dia.

Para peneliti mengungkapkan, dibandingkan dengan orang-orang di negara yang mempunyai GDP sekitar US$ 18 ribu per orang, mereka yang tinggal di negara dengan GDP di bawah US$ 6.700 per orang ternyata 12 persen cenderung mengaku lebih bahagia dengan kehidupannya.

Namun, ketika negara-negara tersebut mencapai batas GDP sekitar US$ 20.400 per orang, dorongan kebahagiaan yang diciptakan oleh kesejahteraan menjadi kurang jelas. Hasil riset juga menunjukkan bahwa antara GDP US$ 20.400 dan US$ 50.000 (level tertinggi per orang), ada perbedaan sekitar 2 persen dalam kecenderungan untuk mengungkapkan level kenyamanan hidup.

DAILY MAIL | ARBA'IYAH SATRIANI

Berita Lain:
Sandra Dewi dan Orang Terkaya ke-125, Ada Apa?
Tiga Jejak Cikeas di Hambalang
Bu Pur Panggil Kapolri 'Dik Tarman'
Ini Daftar Penerima Duit Hambalang dari Nazaruddin


10.19 | 0 komentar | Read More

McDraw Rindra Mempesona dengan Gaya `Patchwork`

Written By Unknown on Kamis, 05 Desember 2013 | 10.19

TEMPO.CO, Jakarta  -Syahrindra Sofyan atau Rindra adalah salah satu desainer muda berbakat yang tampil dalam Indonesia Creative Week (ICW) 2013 di Grand Indonesia, 29 November 2013. Ia menampilkan koleksi pakaian garis modern kontemporer bagi kaum pria dengan aksen kain tradisional, yakni batik dan tenun. Gaya ini dikenal dengan sebutan Patchwork.

Rindra mengaku terus terang ingin membuat siapa pun mencintai kain tradisional Indonesia dengan rancangannya yang berlabel McDraw--merek lokal yang ia buat sejak 2011. Gaya detail Patchwork (tambal sulam) ini sudah jadi ciri khas rancangannya.

Di ICW 2013, Rindra menghadirkan koleksi terbaru untuk sesi musim gugur dingin 2013. Ada kemeja lengan pendek dan panjang, vest, hingga celana bahan flanel bermotif abstrak juga kotak-kotak dengan nuansa warna yang didominasi cokelat dan tambahan abu-abu, hitam, krem, hingga merah.

Sementara koleksi atasan menjadi berbeda dengan tebaran aksen Patchwork batik cap-tulis Sokaraja dengan motif daun talas, jahean, hingga belah duren yang dijahit dengan teknik unfinished. Semuanya dilengkapi bawahan atau celana dari bahan kordorai warna kontras.


10.19 | 0 komentar | Read More

Empat Kebiasaan 'Pengundang' Flu  

TEMPO.CO, New York - Musim penghujan identik dengan melonjaknya serangan influenza. Menurut Dr Roshini Raj, ilmuwan di New York University Medical Center, sebetulnya flu tak kenal musim. "Namun, banyak orang tanpa disadari melakukan aktivitas yang menempatkan mereka pada risiko untuk terserang virus flu," katanya.

Bahkan, katanya, jika berpikir Anda melakukan segalanya dengan benar, tak selamanya berarti demikian. "Ada kebiasaan tertentu yang kita lakukan yang mungkin tidak begitu besar, tapi justru langkah itulah yang mendatangkan flu," katanya.

Ia menyebut salah satunya adalah dengan menenteng gel pembersih tangan antibakteri kemana-mana dan membersihkan tangan secara berkala dengan gel itu. "Asal Anda tahu, gel itu tidak mampu membunuh virus," katanya.

Gel pembersih, katanya, bukan pengganti untuk mencuci tangan. "Hanya cara kuno dengan sabun dan air yang benar-benar dapat membunuh bakteri dan virus, atau setidaknya menghapus mereka dari tangan Anda lebih efektif," ujar Raj.

Gel bisa efektif, katanya, asalkan terbuat dari setidaknya 60 persen alkohol, etanol, atau isopropanol. Menggunakannya juga harus secara efektif dengan menggosok kuat-kuat dan menunggu hingga kering.

Yang kedua, katanya, kalau pun air dan sabun tersedia, mereka tak melakukannya dengan benar. "Penelitian telah menunjukkan banyak orang tidak mencuci tangan mereka setelah mereka batuk atau bersin, atau menyiapkan makanan dan pergi ke kamar mandi," kata Raj. Dua puluh detik dan menggosok seluruh bagian tangan adalah cara mencuci tangan yang benar.


10.19 | 0 komentar | Read More

Desainer Muda Unjuk Gigi di Creative Week 2013  

Written By Unknown on Rabu, 04 Desember 2013 | 10.19

TEMPO.CO, Jakarta - Para desainer muda Indonesia menampilkan karya terbaru mereka di Fountain Atrium, West Mall, lantai 3A, Grand Indonesia Shopping Town (GIST), Jakarta Pusat, dalam acara Indonesia Creative Week 2013 pada 28 November hingga 1 Desember 2013.

Ajang peragaan busana khusus bagi desainer muda dan merek lokal ini memberi kesempatan langka buat para pendatang baru di dunia mode untuk menampilkan kreasinya. Busana yang simpel atau feminin berupa gaun malam, rok dan atasan kasual, hingga busana dengan detail motif batik yang dibuat dalam gaya anak muda mereka tampilkan di sini. Mereka juga bisa bertukar informasi terkini dan pengetahuan dalam industri fashion.

Menurut Felix Yonathans, pendiri dan manajer bisnis Indonesia Creative Week, banyak desainer Indonesia yang bagus. Felix mengatakan, mereka hanya perlu menggali konsep branding, komunikasi, strategi marketing, dan penjualan karya mereka.

"Di ajang ini, kami memotivasi dan memberi edukasi kepada desainer muda agar desainnya lebih keren dan smart. Produk dan kualitasnya kalau bisa juara sampai ke luar negeri," kata Felix yang juga pemilik usaha EnnyJeans.co ini. (Baca :Jokowi: JFW 2014, Jakarta jadi Pusat Mode Dunia)

Para desainer ini, menurut Felix, sudah memiliki pasar. "Ada yang punya usaha penjualan online, butik, dan pabrik sendiri," kata Felix. Meski begitu, mereka diharapkan menggali lagi potensi untuk terjun di industri fashion. Lewat acara inilah, ia mengharapkan para desainer bisa saling mengenal dan berbagi sehingga tercipta jaringan yang ebih luas. 

Indonesia Creative Week sudah digelar tiga kali dan diikuti puluhan desainer muda serta clothing line Indonesia yang berasal dari berbagai provinsi, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.

Sejak digelar pertama pada 2012, jumlah dan kualitas para peserta makin meningkat. Tahun ini, ada 77 desainer muda yang membuka booth dan menampilkan koleksinya. Di antaranya, ada nama-nama seperti Sutriandewi Badenoch, Pierdy, Sastia Naresvari, McDraw by Rindra, EnnyJeans.co, Ian Adrian, dan Mimo Holics.

EVIETA FADJAR


Topik Terhangat:
Sitok Dituduh Hamili Wanita | HIV/AIDS dan Kondom | Kecelakaan Paul Walker | Polwan Berjilbab | Jokowi Nyapres

Berita Terpopuler
Makanan Cepat Saji Perburuk Kesehatan Mulut 
Kane dan Bailey, Perancang Busana Terbaik 
PPKI, Sajikan Pameran Kreatif dan Berdaya Saing
Tidur Larut Turunkan Prestasi Sekolah


10.19 | 0 komentar | Read More

McDraw Rindra Mempesona dengan Gaya `Patchwork`

TEMPO.CO, Jakarta  -Syahrindra Sofyan atau Rindra adalah salah satu desainer muda berbakat yang tampil dalam Indonesia Creative Week (ICW) 2013 di Grand Indonesia, 29 November 2013. Ia menampilkan koleksi pakaian garis modern kontemporer bagi kaum pria dengan aksen kain tradisional, yakni batik dan tenun. Gaya ini dikenal dengan sebutan Patchwork.

Rindra mengaku terus terang ingin membuat siapa pun mencintai kain tradisional Indonesia dengan rancangannya yang berlabel McDraw--merek lokal yang ia buat sejak 2011. Gaya detail Patchwork (tambal sulam) ini sudah jadi ciri khas rancangannya.

Di ICW 2013, Rindra menghadirkan koleksi terbaru untuk sesi musim gugur dingin 2013. Ada kemeja lengan pendek dan panjang, vest, hingga celana bahan flanel bermotif abstrak juga kotak-kotak dengan nuansa warna yang didominasi cokelat dan tambahan abu-abu, hitam, krem, hingga merah.

Sementara koleksi atasan menjadi berbeda dengan tebaran aksen Patchwork batik cap-tulis Sokaraja dengan motif daun talas, jahean, hingga belah duren yang dijahit dengan teknik unfinished. Semuanya dilengkapi bawahan atau celana dari bahan kordorai warna kontras.


10.19 | 0 komentar | Read More

PPKI, Sajikan Pameran Kreatif dan Berdaya Saing

Written By Unknown on Senin, 02 Desember 2013 | 10.20

Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif, Mari Elka Pangestu mencoba sepatu di salah satu stand Pameran Pasar Indonseia 2012 disaksikan Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini (kanan) di Jakarta Convention Center, Rabu (3/10). TEMPO/Aditia Noviansyah

TEMPO.CO, Jakarta -Pameran Produk Kreatif Indonesia (PPKI) mendapat dukungan dari 14 Kementerian dan pemerintah provinsi DKI Jakarta. Kali ini, PPKI mengambil tema besar Indonesia Creative Power (ICP) yang bertujuan menonjolkan ajakan bagi masyarakat Indonesia agar menjadi kreatif. (Baca:Produk Betawi Ditargetkan Raup Rp 500 Juta)

Tahun ini mengedepankan soal daya saing dalam tema "Yang Kreatif, Yang Berdaya Saing" PPKI  berlangsung mulai 27 November hingga hari Minggu, 1 Desember 2013.

Indonesia memiliki potensi yang sangat luas untuk pengembangan ekonomi kreatif, keragaman unsur budaya dan karakteristik masyarakat kita yang sejak dulu sudah berkreasi, di masa kini perlu lebih digali dan diasah lagi agar terasa dampaknya secara ekonomis. (Baca: Kabinet Diminta Kembangkan Industri Furniture)

Dukungan terhadap sektor industri kreatif terus dikembangkan oleh pemerintah. "Ajang ICP 2013 diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap industri kreatif, menyadarkan masyarakat akan potensi industri kreatif, memperluas jejaring diantara sesama pelaku kreatif maupun para pihak yang dapat mendukung keberlanjutannya," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, pada 28 November di Epicentrum.

"Mari berharap melalui ICP akan muncul lebih banyak lagi orang kreatif dan wiramuda kreatif yang mampu bersaing dan mengangkat karya Indonesia di pasar global."

Pameran ini juga diiikuti beberapa komunitas kreatif seperti dari komik, tari,dan film saling bertemu, berkolaborasi dan membangun jejaring.

Pada Gigi Art of Dance dalam ruang pameran mengajak anak muda ikut berlatih tari dengan menyediakan instruktur dan kaca besar.Kelompok ini hadir dalam booth pamer seni pertunjukan.

Yang juga menarik, adalah sebuah desain botol isi kunyit yang dibuat beberapa kemasan oleh Lucky Ibrahim. "Saya menyediakan desain ini bagi perusahaan atau industri yang ingin dibuatkan kemasan produknya," kata desainer grafis ini.

Secara keseluruhan pameran juga menampilkan bidang arsitektur, kuliner, penerbitan, percetakan, permainan kreatif, pasar barang seni, desain komik, musik, fashion, kerajinan dan film.

EVIETA FADJAR
Topik Terhangat
Dokter Mogok | Penyadapan Australia | Duel El VS Farhat Abbas | 30 Tahun Slank | Jokowi Nyapres |

Berita Terpopuler
Mengunyah Makanan Lebih Lama Bikin Langsing
Mulberry Absen dalam Pekan Mode London 2014 
Belajar Hal Baru Bantu Jaga Kesehatan Otak Lansia 
CardioMind, Konsep Fashion 2014 Susan Budiharjo  



10.20 | 0 komentar | Read More

Tes Cinta Ini Khusus untuk yang Baru Menikah  

TEMPO.CO, Florida - Para ilmuwan telah menemukan tes cinta yang dipercaya bisa menjadi panduan yang baik untuk keberhasilan hubungan dalam menjalin pernikahan. Penelitian menunjukkan bahwa respons bawah sadar suatu pasangan dapat memperkirakan kualitas pernikahan. Mereka yang memiliki reaksi negatif terhadap respons emosional ternyata cenderung tidak bahagia dalam beberapa tahun kemudian.

Studi ini dipublikasikan dalam Journal Science. Profesor James McNulty, penulis utama dari Florida State University, mengatakan bahwa tes ini mengukur perasaan yang sebenarnya atas pasangan, bukan yang dikatakan kepada orang lain atau bahkan pada dirinya sendiri. "Respons terhadap level emosional ini tampaknya sangat kuat memprediksi apakah orang-orang tetap bahagia," kata McNulty.

Tim peneliti mewawancarai 135 pasangan pengantin baru. Kemudian para peneliti itu meminta mereka untuk mengevaluasi pernikahannya dengan kata sifat seperti baik, buruk, memuaskan, dan tidak memuaskan. Selanjutnya, mereka mengukur respons emosional antara keduanya menggunakan tes cinta tersebut.

Caranya, responden diperlihatkan foto pasangannya dalam sekejap. Mereka harus menjawab secepat mungkin dan harus mengekspresikan dengan kata-kata seperti hebat, mengagumkan, mengerikan, ataupun menakutkan. Di situ akan terlihat, mereka memilih kata-kata positif atau negatif. "Kecepatan menjawab dan menggunakan pilihan kata akan mengindikasikan perasaan yang sebenarnya," kata para peneliti.

Tes ini berprinsip pada psikologi asosiasi. Teorinya adalah saat melihat foto pasangan dalam sekejap, akan nampak respons positif atau negatif di dalam pikiran para pengantin baru tersebut. Jika mereka berada dalam kondisi pikiran positif, maka responden akan mengidentifikasi kata-kata positif lebih cepat dibandingkan kata-kata negatif. Begitu juga sebaliknya.

McNulty dan tim menemukan bahwa jawaban semua pengantin baru adalah positif dan sangat senang dengan hubungan mereka. Tetapi, reaksi respons emosional dalam tes cinta nampak bervariasi. Para peneliti kemudian mewawancarai pasangan tersebut tiap enam bulan selama empat tahun. Ternyata mereka menemukan reaksi respons emosional yang negatif atau cenderung tidak bahagia dalam perkawinannya. Beberapa bahkan bercerai.

Menurut penulis, tes ini mengukur tentang ada atau tidaknya emosi negatif. "Seseorang dapat memiliki cinta dan emosi negatif dalam waktu yang sama. Dan tes ini dapat menyentuh keduanya," kata McNulty. Siapkah Anda mengikuti tes ini? (Baca juga: Peneliti: Patah Hati Berisiko Tinggi Kematian dan Tujuh 'Sinyal' Pasangan Telah Berselingkuh)

BBC | ISMI WAHID

Berita Lainnya:
Sobek, Akhirnya Jokowi Tampil dengan Sepatu Baru
Jokowi Dendangkan Lagu di Istora
Jalan Gunung Sahari Tergenang
Angger Jati Wijaya, Pendiri AJI Yogya Tutup Usia
Buang Sampah Sembarangan, KTP Ditahan


10.20 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger