Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Jerman Siap Terbitkan Surat-surat Kartini  

Written By Unknown on Rabu, 09 Oktober 2013 | 10.19

TEMPO.CO, Malang - Goethe Institut tertarik untuk menerbitkan buku tentang RA Kartini dalam bahasa Jerman. Sejumlah penerbit di Jerman juga sedang mematangkan rencana untuk menerbitkan sejumlah buku tentang tokoh emansipasi wanita dari Jepara itu. Mereka menawarkan rencana penerbitan itu kepada sejumlah pengarang Indonesia yang akan berkumpul di Ubud Writers and Readers Festival pada 11-15 Oktober 2013 di Ubud, Bali.

"Jika ada penulis yang siap melakukan riset tentang Kartini, silakan," kata Kepala Bagian Informasi dan Perpustakaan Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru Goethe Institut, Christel Mahnke, di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Selasa, 8 Oktober 2013. Jika tak ada yang bersedia meriset tentang Kartini, Goethe akan menerjemahkan surat-surat Kartini yang terkumpul dalam buku lama Letters of a Javanese Princess.

Untuk mempersiapkan penerbitan itu, Goethe Institut telah berdiskusi dengan mantan Presiden Indonesia B.J. Habibie mengenai sosok Kartini dan pentingnya peranan Kartini dalam sejarah Indonesia. Mereka juga membahas secara terperinci tentang jumlah buku yang akan dicetak dan didistribusikan. Sebelumnya, Jerman telah menerbitkan novel karya Andrea Hirata dan Ayu Utami. "Tapi, tak ada buku Kartini berbahasa Jerman," kata Mahnke.

Kartini dianggap penting dalam memperjuangkan kesetaraan kaum perempuan. Apalagi, perjuangannya itu dimulai sejak dia masih muda. Selama ini, kata Mahnke, ia hanya mendapat informasi dan sekelumit kiprah Kartini secara terbatas melalui Internet. "Dia keluar dari kehidupannya yang nyaman dan membuat perubahan untuk kaumnya," katanya.

Penulis dan sutradara Jerman, Jenny Erpenbeck, mengagumi Kartini yang memperjuangkan kesetaraan perempuan di tengah budaya dan adat Jawa, yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Pada masa Kartini, perempuan tak mendapat tempat untuk menjadi pemimpin, dan pendidikan mereka juga terabaikan. "Kartini berperan besar dalam kemajuan kaum perempuan saat ini," katanya.

EKO WIDIANTO

Berita Terpopuler Lainnya:
Jawara, Ulama, dan Golkar dalam Dinasti Ratu Atut
KPK Geledah Kantor Adik Atut di Mega Kuningan
Adik Prabowo Tolak Rp 500 Miliar dari Jokowi
Airin Sebaiknya Jangan Pulang Dulu dari Amerika
Filosofi Permen ala Jokowi

Berita Terkait


10.19 | 0 komentar | Read More

Foto Makanan di Instagram Merusak Selera?

Kemangi, pasta, dan tomat adalah bahan-bahan yang umum dipakai dalam makanan Italia. Dailymail.co.uk

TEMPO.CO, Idaho - Makanan adalah salah satu obyek terfavorit yang diunggah para pengguna media sosial. Khususnya Instagram, yang memungkinkan penggunanya bisa memodifikasi warna, tampilan, dan cahaya dari foto asli makanan. Tapi ternyata foto-foto makanan yang sudah dipermak tersebut mampu merusak selera makan.

Kesimpulan tersebut terungkap dari kajian yang dipublikasikan School of Management, Universitas Brigham Young, pada Senin, 7 Oktober 2013, lewat situs Mashable. Survei ini meminta 232 siswa untuk memberi peringkat atas makanan yang mereka lihat. Sebagian peserta diberi sajian manis dan sisanya diberi makanan dengan cita rasa asin.

Pada akhir percobaan, peserta diberi kacang. Peserta yang melihat rasa asin melaporkan bahwa tidak berselera lagi makan kacang. Kondisi tersebut sesuai dengan teori yang ditulis Profesor Ryan Elder, ahli sensori. "Anda akan menjadi bosan dengan rasa, meski belum memakannya," kata dia. Situasi ini disebut sebagai kondisi kebosanan sensori yang membuat Anda tak ingin lagi merasakan apa pun.

Tapi, di sisi lain, kajian ini punya efek positif bagi orang yang kecanduan makanan tertentu. Lihatlah lusinan foto kue-kue cokelat setiap hari. Tentu Anda akan menjadi bosan dan enggan memakannya.

DIANING SARI

Berita Lain:
Indra Bekti Gemas dengan Kasus Akil Mochtar
Pangeran Harry Siap Nikahi Cressida Bonas
Chris Brown Lepas Perjaka Usia 8 Tahun


10.19 | 0 komentar | Read More

Berapa Kadar Kandungan Ayam dalam Nugget?  

Written By Unknown on Selasa, 08 Oktober 2013 | 10.19

TEMPO.CO, MississippiNugget telah menjelma menjadi makanan populer di dunia. Daging ayam olahan ini disukai anak-anak dan para ibu. Bagi anak, nugget memiliki rasa yang gurih dan enak. Sementara bagi ibu, nugget begitu mudah dimasak dan tidak merepotkan.

Namun, seperti dikutip laman Reuters, Jumat, 4 Oktober 2013, dalam sebuah laporan American Journal of Medicine disebutkan nugget hanya memiliki kandungan ayam sebesar 50 persen. Sementara sisanya terdiri atas tepung dan kandungan lain, termasuk zat pengawet dan penguat rasa.

Bahkan, sampel nugget dengan kadar ayam 50 persen ini sebenarnya tidak benar-benar terdiri atas daging putih ayam yang biasanya terdapat pada dada dan paha. Bagian ini merupakan bagian terbaik bagi ayam. Tapi, sebanyak 50 persen kandungan ayam dalam nugget rupanya terdiri atas jaringan otot, campuran lemak, pembuluh darah, dan saraf.

Sementara itu, peneliti juga menemukan nugget yang hanya memiliki kadar ayam sebesar 40 persen. Dan lagi-lagi, tidak ada daging putih ayam dalam kandungannya. Sebanyak 40 persen kadar ayam ini terdiri atas lemak, tulang rawan, dan potongan lemak.

Temuan ini benar-benar mengejutan. Pasalnya, nugget yang begitu populer telah dianggap sebagai sumber protein terbaik.

"Sumber protein terbaik berasal dari daging putih ayam. Bagian inilah yang harusnya dimakan konsumen," ujar pemimpin penulis studi, Dr Richard D. deShazo dari Pusat Kesehatan Universitas Mississippi.

REUTERS | ANINGTIAS JATMIKA

Berita Terpopuler Lainnya:
Juara Top Model Asia Datang Lagi ke Indonesia
Banyak Wanita Ikuti Langkah Angelina Jolie
Tak Sehat, Berperut Buncit dengan Lemak Menumpuk
Ayu Dewi Lebih Nyaman Belanja Online

Berita Terpopuler Lainnya
Adik Atut Dicokok, Awal Runtuhnya Dinasti Banten
Mobil Mewah Adik Atut Sering Ngebut Malam Minggu
5 Wilayah Banten di Bawah Klan Atut Chosiyah
Ketua KPK Tak Takut pada Atut
Ratu Atut Punya Rumah Mewah di Bandung


10.19 | 0 komentar | Read More

Cokelat Untuk Kesehatan Jantung Siap Dijual

TEMPO.CO, Wina--Bagi penggemar cokelat, kabar ini kiranya menggembirakan. Cokelat yang baik untuk kesehatan jantung telah dikembangkan dan akan dijual dalam beberapa bulan ke depan.

Nama cokelat itu adalah Acticoa. Ini adalah cokelat hitam yang mengandung flavanol, yakni kimiawi tanaman yang bisa meningkatkan kesehatan. Acticoa dibuat oleh perusahaan Swiss, Barry Callebaut.

"Ini bukan tentang penambahan zat nutrisi buatan, tapi soal mempertahankan apa yang sudah ada pada cokelat," kata juru bicara Barry Callebaut, Marijke De Brouwer, seperti dilansir Daily Mail, Senin, 7 Oktober 2013.

Biji cokelat secara alami mempunyai kandungan flavanol yang tinggi, tapi umumnya zat itu hilang selama proses pengolahan cokelat. Barry Callebaut telah membuat penyesuaian pada teknik pemrosesan yang pada gilirannya mempertahankan flavanol.

Hasil tes terhadap Acticoa menunjukan cokelat hitam ini meningkatkan elastisitas pembuluh darah hingga 1-2 persen. Peningkatan elastisitas ini mempermudah aliran darah. Riset menunjukan bahwa peningkatan elastisitas pembuluh darah 1 persen bisa memotong risiko penyakit kardiovaskuler, termasuk serangan jantung, hingga delapan persen.

Konferensi jaringan industri cokelat juga telah mendengar tentang tingginya minat pada Acticoa. Komisi Eropa telah memberi izin pada Acticoa untuk membawa klaim kesehatan tersebut.

Tapi, sebagian pihak juga mewanti-wanti orang soal makan cokelat ini. Pasalnya, cokelat yang dijual di pasaran bukan lagi murni cokelat hitam, namun telah ditambahkan dengan gula sehingga membuatnya manis. "Kita mesti ingat cokelat mengandung kurang lebih 50 persen gula dan 50 persen lemak," kata Angus Kennedy, dari majalah perdagangan Kennedy's Confection. "Jika Anda ingin meningkatkan aliran darah, Anda mungkin lebih baik keluar untung joging atau berjalan di taman," kata dia.

DAILY MAIL | AMIRULLAH

Baca juga:
Satu Lagi Alasan untuk Mencintai Paus
Dominasi iPhone Mulai Dekati Android
Bikin Petaka, Ubur-ubur Harus Lawan Robot Pembasmi
Tak Menyusui, Induk Gorila Tolak Kelahiran Anaknya


10.19 | 0 komentar | Read More

Tak Sehat, Berperut Buncit dengan Lemak Menumpuk

Written By Unknown on Senin, 07 Oktober 2013 | 10.19

TEMPO.CO, Jakarta - Perut kencang adalah impian semua orang. Tak semata alasan estetika, perut singset juga bisa jadi penanda Anda jauh dari sejumlah penyakit. Tak hanya karena kurang olahraga, perut buncit bisa juga disebabkan oleh pola makan tidak seimbang. Karena itu, merampingkan perut tak bisa sekadar dengan mengubah pola makan ataupun olahraga, tapi harus mengkombinasikan keduanya.

Perut buncit, menurut Simon Rama Hersa, instruktur dari sebuah pusat kebugaran ternama di Jakarta, menunjukkan adanya penumpukan lemak yang berpotensi menyebabkan penyakit jantung. Menurut dia, banyak jenis olahraga yang bisa dipilih untuk merampingkan perut. Tapi Simon menyarankan agar Anda melakukan sejumlah latihan fisik sekaligus.

"Menghindari buncit tak bisa dengan olahraga perut saja, tapi juga mesti dibarengi latihan untuk seluruh tubuh," ujarnya saat ditemui di Gandaria City, pekan lalu.

Olahraga pertama yang bisa dipilih adalah aerobik. Latihan ini bisa memangkas kalori dan lemak di perut karena mewajibkan Anda untuk terus menggerakkan hampir seluruh anggota tubuh. Untuk jenisnya bergantung pada kebutuhan dan preferensi Anda, apakah akan memilih senam, jalan kaki, berenang, atau belly dance. Yang penting, kata Simon, Anda melakukannya minimal 30 menit dalam sekali latihan.

Setelah aerobik, Anda bisa melanjutkan olahraga dengan latihan beban, seperti push up, sit up, bridging, maupun squat. Push up berguna untuk mengencangkan dada dan bahu, sementara squat dan bridging bekerja pada paha dan bokong.

"Kalau semua itu dilakukan dengan baik, otot perut akan ikut terbentuk," ujar Simon.


ISMA SAVITRI

Topik Terhangat
Ketua MK Ditangkap
Dinasti Banten
APEC
Info Haji
Pembunuhan Holly Angela

Berita Terpopuler
Selamat Tinggal Era Minimalis
Juara Top Model Asia Datang Lagi ke Indonesia
Toilet Portabel Tidak Bisa Digunakan
Banyak Wanita Ikuti Langkah Angelina Jolie
Ayu Dewi Lebih Nyaman Belanja Online


10.19 | 0 komentar | Read More

Ini Gerakan untuk Halau Perut Buncit

TEMPO.CO, Jakarta - Perut buncit, menurut Simon Rama Hersa, instruktur sebuah pusat kebugaran ternama di Jakarta, menunjukkan adanya penumpukan lemak yang berpotensi menyebabkan penyakit jantung. Menurut dia, banyak jenis olahraga yang bisa dipilih untuk merampingkan perut. Tapi Simon menyarankan agar Anda melakukan sejumlah latihan fisik sekaligus.

Ditemui di Gandaria City, pekan lalu, Simon menjelaskan selain aerobik, Anda bisa melanjutkan olahraga dengan latihan beban, seperti push up, sit up, bridging, maupun squat. Sementara push up berguna untuk mengencangkan dada dan bahu, squat dan bridging bekerja pada paha dan bokong. "Kalau semua itu dilakukan dengan baik, otot perut akan ikut terbentuk," ujar Simon.

Bridging bisa dilakukan dengan cara menekuk kedua kaki agak rapat, saat Anda dalam posisi telentang. Pada saat yang sama, pinggul diangkat ke atas, sehingga lutut, panggul, dan bahu sejajar 180 derajat. Perlahan-lahan, turunkan tubuh Anda, lalu kembali angkat ke posisi semula.

Gerakan tersebut idealnya diulang 15 kali dalam satu set. Adapun dalam sekali latihan yang bisa berlangsung 3-4 kali sepekan, Anda bisa menjalani 2-5 set. Gerakan bridging tak hanya bertujuan mengencangkan otot perut, tapi juga melatih otot hamstring, paha belakang, bokong, dan tulang belakang bagian bawah.

Melakukan gerakan bridging, disebutkan Simon, harus dengan teknik yang baik. Teknik tersebut mesti diikuti tempo gerakan dan cara pernapasan yang juga tepat. "Temponya jangan terlalu cepat, tapi juga jangan lambat. Mesti pas dan stabil," ujar lelaki bertubuh tegap tersebut.

Sedangkan squat dilakukan dengan cara bergantian jongkok dan bangun. Saat squat, lutut tak boleh melewati ujung kaki. Adapun bokong diturunkan hingga 45 derajat sejajar posisi lutut. Dada tetap membusung, sedangkan kepala dan tulang punggung mesti tegak lurus. Jumlah pengulangan peralihan gerakan jongkok dengan bangun sama dengan bridging.

Latihan yang juga bisa Anda pilih adalah push up dan sit up. Karena kedua gerakan ini tergolong susah, Simon menyarankan agar Anda memodifikasi teknik latihan. Push up untuk perempuan, misalnya, bisa dimodifikasi dengan cara menurunkan lutut ke lantai. Gerakan itu disebut modified dynamic push up. "Enggak masalah tingkat kesulitannya dikurangi. Yang penting tidak menyulitkan dan konsisten dilakukan."

Untuk sit up, Anda bisa memodifikasinya dengan cara mengangkat hanya separuh tubuh bagian atas. Posisi tubuh saat telentang mesti lurus dan kedua kaki ditekuk rapat. Sedangkan kedua tangan di samping tubuh digeser ke depan-belakang, menyesuaikan naik-turunnya badan.

Simon mengatakan penyederhanaan gerakan sit up itu bisa dipilih pemula untuk mengencangkan otot perut bagian atas. "Kalau yang melakukan sit up belum fleksibel, yang akan dipaksa kerja bukan otot perut, melainkan otot belakang punggung. Jadi mending gerakannya dimodifikasi agar tidak salah kaprah," ujarnya.

Adapun otot bagian bawah bisa Anda latih dengan gerakan reverse crunch. Caranya, kedua kaki diangkat dalam kondisi rapat dan tak harus dalam posisi lurus. Sedangkan posisi tubuh Anda telentang, dengan tangan diletakkan di belakang kepala. Angkat lutut perlahan sampai membentuk sudut 90 derajat dari sebelumnya. Kontraksikan otot perut, dan angkat sedikit bagian panggul Anda.

Reverse crunch tergolong ringan karena hanya meminta Anda mengangkat panggul beberapa sentimeter dari lantai. Gerakan itu juga efektif, terutama saat Anda mengangkat pinggul dengan memanfaatkan kontraksi otot perut, bukan mengentakkan kaki. Untuk memaksimalkan latihan, Anda juga disarankan untuk membiasakan diri menarik otot perut saat beraktivitas sehari-hari.

ISMA SAVITRI

Topik Terhangat
Ketua MK Ditangkap
Dinasti Banten
APEC
Info Haji
Pembunuhan Holly Angela

Berita Terpopuler
Selamat Tinggal Era Minimalis
Juara Top Model Asia Datang Lagi ke Indonesia
Toilet Portabel Tidak Bisa Digunakan
Banyak Wanita Ikuti Langkah Angelina Jolie
Ayu Dewi Lebih Nyaman Belanja Online


10.19 | 0 komentar | Read More

Pada Usia Ini Biasanya Wanita Berselingkuh

Written By Unknown on Minggu, 06 Oktober 2013 | 10.19

TEMPO.CO, Jakarta - Selingkuh, bagi wanita, bukan lagi hal yang tabu. Jika biasanya predikat selingkuh banyak melekat pada kaum pria, kini kaum wanita juga turut berselingkuh. Lewat sebuah survei yang dilakukan pada 10.245 wanita Inggris dari berbagai usia, rupanya wanita berselingkuh pada masa usia tertentu.

"Survei ini mengungkap, wanita lebih rentan untuk berselingkuh pada usia 25-34 tahun," tulis laman Daily Mail, kamis, 4 Oktober 2013. Dan parahnya, sebanyak 79,2 persen wanita peselingkuh mengungkapkan seks sebagai alasannya.

Secara global, ketidaksetiaan perempuan terus meningkat, tidak terkecuali di Inggris. Sebanyak 35,1 persen wanita berselingkuh di usia 25-34 tahun. Dan, sebanyak 30,4 persen wanita berselingkuh di usia 35-44 tahun.

Tipe peselingkuh wanita juga mirip dengan peselingkuh pria. Keduanya mengaku, meski berselingkuh, mereka masih mencintai pasangan mereka. Sebanyak 76,9 persen wanita peselingkuh mengaku bahwa mereka masih mencintai pasangan mereka. Dan yang mengejutkan, sebanyak 95,1 persen wanita peselingkuh menyatakan mereka sama sekali tidak mencintai selingkuhan mereka.

Akses yang luas pada wanita menjadikan wanita semakin mudah berselingkuh. Dengan ponsel cerdas yang memiliki akses internet setiap saat, wanita tidak perlu menonjolkan godaan nyata untuk berselingkuh. Ditambah lagi, kemandirian wanita juga membuat mereka semakin berani dan tak takut lagi ditinggalkan kaum lelaki.

DAILY MAIL | ANINGTIAS JATMIKA 

Topik Terhangat
Ketua MK Ditangkap | Amerika Shutdown | Pembunuhan Holly Angela | Edsus Lekra | Info Haji

Berita Terpopuler
KPK Tangkap Akil Mochtar dan Politikus Golkar
KPK Tangkap Ketua MK Akil Mochtar?
Begini Sengketa Pemilu Gunung Mas
Ini Pernyataan Keras Akil Mochtar Soal Korupsi
Akil Mochtar Sudah Diincar KPK


10.19 | 0 komentar | Read More

Terbukti, Olahraga Lebih Baik daripada Obat

TEMPO.CO, Boston - Selain menyehatkan tubuh, ternyata manfaat olahraga lebih baik daripada mengkonsumsi obat, terutama bagi penderita jantung dan diabetes. Pernyataan tersebut ditemukan setelah para peneliti dari London School of Economics, Harvard Medical School dan Stanford University School of Medicine melakukan percobaan.

Mereka membandingkan efek terapi fisik, seperti olahraga ringan, dengan konsumsi obat pada empat penyakit yang berbeda, yaitu, penyakit jantung, pemulihan stroke, pengobatan gagal jantung, dan pencegahan diabetes. Para ilmuwan itu mendapatkan 305 hasil percobaan yang melibatkan 339.274 orang yang sedang melakukan program latihan terapi fisik dan obat sebagai langkah penyembuhan.

Penelitian itu menemukan, terapi fisik berpengaruh cukup besar bagi penderita stroke dan penyakit jantung. Terapi fisik juga dirasa lebih bermanfaat bagi penderita diabates. Mereka mengaku bahwa terapi fisik menurunkan kadar gula lebih banyak dari pada mengkonsumsi obat.

Akan tetapi, tak semua peserta cocok dengan terapi fisik ini. Satu-satunya kelompok yang tidak mendapat keuntungan dari terapi obat adalah pasien gagal jantung. Diperkirakan karena aktivitas fisik memang tak dianjurkan untuk mereka. 

Untuk menjaga kesehatan secara optimal, para ahli merekomendasikan berolahraga sekitar 2,5 jam seminggu. Bagi yang masih sehat,  aktivitas fisik juga sangat bermanfaat karena otot jantung dan penampilan fisik bisa lebih terjaga.

RINDU P HESTYA | TIME

Berita Populer Terkait:
Pemilik Suara Siri Buka Suara  
KakaoTalk Sediakan Telepon Gratis untuk BlackBerry  
Operator Terbesar Kanada Ogah Jual BlackBerry Z30  
Twitter Alami Kendala Pertumbuhan Jumlah Pengguna
Anak Badak Liar Lahir di Way Kambas  


10.19 | 0 komentar | Read More

Studi: Kontak Mata Tak Selalu Bagus Saat Bicara

Written By Unknown on Sabtu, 05 Oktober 2013 | 10.19

TEMPO.COKolumbia:Kontak mata sudah lama dianggap sebagai cara efektif saat melakukan persuasi. Tapi sebuah penelitian menunjukan kontak mata justru kontraproduktif ketika lawan bicara sudah tak setuju.

"Ada banyak pengetahuan budaya tentang kekuatan kontak mata sebagai alat mempengaruhi," kata Frances Chen, guru besar University of British Columbia, seperti dilansir Xinhua, Kamis, 3 Oktober 2013. "Tapi temuan kami menunjukkan bahwa kontak mata membuat pendengar yang skeptis cenderung untuk mengubah pikiran mereka, tidak lebih, seperti yang diyakini sebelumnya."

Hasil penelitian ini dipublikasikan jurnal Psychological Science, sebuah jurnal dari Association for Psychological Science. Penelitian dilakukan oleh peneliti dari Kanada, Jerman, dan Amerika Serikat.

Dengan bantuan teknologi pelacak mata yang baru-baru ini dikembangkan, peneliti menginvestigasi pengaruh kontak mata pada situasi yang melibatkan persuasi dalam beberapa kali eksperimen. Hasilnya, peneliti menemukan bahwa dalam berbagai isu-isu kontroversial, semakin banyak partisipan melihat mata pembicara, mereka semakin kurang terbujuk oleh argumen mereka.

Menurut peneliti, kontak mata yang lama hanya terkait dengan penerimaan yang lebih besar pada partisipan yang memang sudah setuju dengan isu yang dibicarakan lawan bicara.

"Apakah Anda seorang politisi atau orang tua, mungkin akan membantu untuk diingat bahwa mencoba mempertahankan kontak mata dapat menjadi bumerang jika Anda mencoba meyakinkan seseorang yang memiliki seperangkat keyakinan berbeda pada Anda," kata peneliti lain, Julia Minson dari Harvard Kennedy School of Government.

XINHUA | AMIRULLAH


10.19 | 0 komentar | Read More

Cara Aman Membawa Tas dengan Beban Berat  

TEMPO.CO, Jakarta - Membawa barang-barang dengan tas merupakan pilihan yang tepat dan praktis. Tas juga memiliki berbagai kapasitas dan jenis yang beragam. Jika tas berukuran besar, pasti barang yang mampu dimasukan ke dalamnya juga banyak.

Tas berukuran besar seringkali diisi secara maksimal yang menjadikan bobotnya lebih berat. Padahal, beban tas yang berlebih bisa menyebabkan sakit serta kerusakan tulang punggung dan leher dalam jangka panjang. Berikut enam langkah aman jika membawa tas dengan beban berat:

1. Kurangi Bawaan
Cara yang paling mudah adalah dengan membawa mengurangi barang-barang yang berat agar tas lebih ringan. Sebisa mungkin bawalah tas dengan beban yang ringan jika keperluannya tak terlalu mendesak.  Beban ringan dapat mengurangi tekanan pada otot dan perubahan postur leher serta sudut lordosis tulang belakang.

2. Bawaan Cukup 15 Persen dari Berat Tubuh
Ketika sangat diharuskan membawa tas berat, usahakan bobot maksimalnya sekitar 15 persen dari berat tubuh. Para ahli menyarankan, batas normalnya kira-kira 10 persen dari berat tubuh. Misalnya, jika berat tubuh Anda 50 kilogram, berarti beban makimal yang dapat dibawa adalah 7,5 kilo dan untuk lebih aman sekitar 5 kilogram saja.

3. Letakan Barang Terberat Di Bagian Bawah
Sebuah studi menemukan bahwa penempatan beban di bagian bawah tas bisa sedikit mengurangi perubahan postur dan kelengkungan tulang belakang. Selain itu, istirahatkan bahu dan punggung jika mulai terasa lelah. Atau, tukar posisi tas ke depan tubuh agar bahu dan punggung tidak menerima tekanan terus-menerus.

4. Gunakan Dua Tali
Sebuah studi menemukan bahwa leher adalah titik terlemah ketika membawa beban. Untuk meringankan kerja leher, sebaiknya gunakan tas yang memiliki dua tali. Tas dengan dua tali akan menyeimbangkan beban yang dibawa sehingga tekanan pada leher lebih minim. Jika menggunakan tas satu tali, sering-seringlah menukar posisi tas dari satu bahu ke bahu yang lainnya.

5. Atur dengan benar

Cobalah untuk mendistribusikan beban tas secara merata untuk menghindari stres postural. Berat tas jangan terlalu condong ke satu sisi. Seperti pada poin kedua, usahakan beban tas 10 persen dari berat tubuh.

6. Dekatkan Tas dengan Tubuh
Membawa tas dekat dengan tubuh akan mengurangi jumlah goyangan postural pada tulang belakang. Jika tas terlalu menggantung atau longgar, punggung akan lebih cepat lelah. Ahli terapis fisik menyarankan, pilihlah tas yang sesuai dengan bentuk tubuh agar lebih nyaman ketika membawa beban berat.

RINDU P HESTYA | HEALTH

Berita Populer Terkait:
Kanu, Kandang Merpati Se-Nusantara
Studi: Kontak Mata Tak Selalu Bagus Saat Bicara
Okke Hattarajasa Ingatkan Pentingnya Inovasi Batik  


10.19 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger