Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Nikmati Gigi Baru Pengganti dari Sel Gusi

Written By Unknown on Senin, 11 Maret 2013 | 10.19

Senin, 11 Maret 2013 | 04:47 WIB

TEMPO.CO, London - Suatu saat nanti, dokter gigi bisa menggantikan gigi yang hilang dengan gigi baru dari sel gusi. Tim peneliti dari King College London mengambil sel-sel dari jaringan gusi manusia dewasa dan dikombinasi dengan sel tipe lain dari tikus untuk menumbuhkan gigi.

Mereka menggunakan bahan yang tersedia dari sel sebagai aplikasi teknologi yang dekat dan mudah tersedia bagi pasien. Tetapi proses ini mungkin masih membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum dokter gigi aman menggunakannya.

Studi sebelumnya telah difokuskan pada penggunaan sel induk embrio untuk menciptakan "bioteeth". Para peneliti mengatakan bahwa ini bisa dilakukan namun sayangnya masih mahal dan tidak praktis untuk digunakan di klinik.

Namun, dalam studi terbaru ini para peneliti mengambil sel epitel manusia dari gusi pasien, kemudian ditumbuhkan di laboratorium yang dicampur dengan sel mesenkim dari tikus. Sel-sel masenkim ini bertugas menjadi perangsang yang menginstruksikan sel-sel epitel untuk mulai tumbuh menjadi gigi.

Transplantasi kombinasi sel ke tikus, peneliti mampu menumbuhkan gigi hybrid manusia dengan tikus yang memiliki akar gigi yang layak. Detil penemuan ini telah dilaporkan dalam Journal of Dental Research.

Terlihat bahwa bagian kecil dari tipe sel yang tepat ketika ditransplantasikan ke rahang gigi maka akan dapat berkembang menjadi gigi fungsional. Langkah berikutnya adalah mendapatkan sumber sel masenkim manusia untuk menumbuhkan sel epitel itu sehingga cara baru ini akan lebih berguna diterapkan di klinik.

Pemimpin studi, Profesor Paul Sharpe mengatakan bahwa sel-sel masenkim dapat ditemukan di gigi bungsu maupun sumber-sumber lain. Namun kesulitannya bahwa jumlahnya tak mencukupi. "Kami mengidentifikasi populasi sel dengan cara sederhana untuk mendapatkan masenkim," katanya.

Ia mengharapkan bahwa teknologi baru ini bisa mengganti implan gigi saat ini yang tidak dapat memproduksi struktur akar alami. Selain itu, gesekan karena gerakan antara rahang saat makan dapat menyebabkan tulang disekitar implan akan bergeser. Tentu, jika implan model ini terwujud maka biayanya harus terjangkau.

BBC | ISMI WAHID

Berita terpopuler lainnya:
Polda Temukan Kartu Intelijen di Mobil Hercules
Jokowi Ikut Nonton Music Bank Jakarta
Wawancarai Aher, Sejumlah Wartawan Dipukul Petugas
Modus Golden Traders Mirip Perusahaan di Malaysia 
Eunhyuk Ingin Belajar Bahasa Indonesia
Curhat Rustriningsih Kenapa Tak Lolos Cagub


10.19 | 0 komentar | Read More

Sushi Juga Bisa Bikin Gemuk

Senin, 11 Maret 2013 | 08:33 WIB

TEMPO.CO, London - Selebriti bertubuh indah, sebut misalnya Victoria Beckham, Cheryl Cole, dan Keira Knightley, semua menggemari hidangan ikan mentah ala Jepang, sushi. Dalam dua tahun terakhir, berdasar data statistik Inggris, permintaan terhadap makanan ini naik dua kali lipat. Alasan utama untuk lonjakan itu adalah reputasinya sebagai makanan yang sehat.

Tapi jangan salah. Kandungan kalori sushi ternyata tak kalah dari big burger dan sandwich. Menurut ahli diet Rachel Beller dalam bukunya, Eat To Lose, Eat To Win, ia mengatakan konsumsi berlebih sushi bisa berarti Anda overdosis asupan kalori dan karbohidrat.

"Satu gulung sushi berisi 290-350 kalori dan memiliki setara dengan karbohidrat dua setengah sampai empat potong roti," kata Beller.

Satu porsi sushi, biasanya berisi dua atau tiga gulungan, hingga total menjadi 1.050 kalori. Kadar lebih tinggi ditemukan pada varian sushi seperti California roll, yaitu sushi yang digulung bulat, berisi sepotong kecil ikan, mayones, serta alpukat, bahkan kalorinya lebih banyak lagi, katanya. "Sama dengan dua sandwich diisi dengan olahan kepiting, sepotong alpukat, dan sedikit sayuran."

Ia juga menyatakan, kandungan ikan dalam sushi jauh dari jumlah yang direkomendasikan, yaitu 140 gram per hari.  Dalam sepotong nigiri (nasi dengan ikan di atasnya) beratnya hanya 5g. "Artinya, Anda akan perlu makan 28 buah sushi untuk mencapai porsi 140 g," katanya.

Ia menyatakan,  sashimi - irisan tuna mentah atau salmon - adalah pilihan yang lebih baik jika Anda tertarik untuk meningkatkan protein, lemak omega-3, vitamin, dan mineral namun juga peduli berat badan. Makanan ini juga rendah karbohidrat olahan. Namun ia menyarankan untuk mewaspadai kandungan zat berbahaya semisal merkuri dan bakteri di dalam daging mentah itu.

MAIL ONLINE | TRIP B


10.19 | 0 komentar | Read More

Konsumsi Obat Jenis Ini Bahaya bagi Ginjal

Written By Unknown on Minggu, 10 Maret 2013 | 10.19

Sabtu, 09 Maret 2013 | 03:02 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Banyak orang yang biasa mengkonsumsi obat bermerek di pasaran tanpa ada konsultasi dokter. Alih-alih ke dokter ketika terjadi sakit berulang, banyak pasien yang terus mengkonsumsi obat bermerek dan meningkatkan dosisnya. Padahal, konsumsi tanpa pengawasan medis bisa membahayakan kinerja organ tubuh.

"Konsumsi analgetik, obat rematik, dan amfetamin yang berlebihan bisa mengganggu kerja ginjal," ujar Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia Dharmeizar dalam acara konferensi pers peringatan Hari Ginjal Sedunia, Rabu, 6 Maret 2013.

Obat analgesik adalah obat peredam rasa sakit, seperti untuk obat sakit kepala. Adapun obat rematik digunakan untuk meredakan nyeri penyakit rematik. Konsumsi dua jenis obat tersebut secara berkelanjutan, menurut Dharmeizar, harus dengan pengawasan dokter. Sebab, kalau tidak akan menyebabkan penyakit interstitial nephritis. "Menganggu daerah interstisium," kata dia.

Interstitial nephritis adalah gangguan ginjal yang terjadi pada daerah intersisium. Daerah tersebut akan membengkak sehingga mempengaruhi kinerja ginjal. Gangguan ini bisa bersifat sementara atau berkelanjutan jika kondisinya memburuk. Menurut Dharmeizar, obat-obat jenis paracetamol cukup aman bagi ginjal. Asal konsumsinya juga tidak lama, maksimal satu hingga dua hari. "Tapi ya tetap harus periksa ke dokter," ia mengingatkan.

Lalu untuk antibiotik, ada beberapa yang memang termasuk nefrotoksik (meracuni ginjal). Sehingga bagi penderita ginjal atau siapa pun juga, kata Dharmeizar: "Kalau mau konsumsi obat apa pun, sebaiknya konsul ke dokter." Khususnya bagi mereka yang sudah memiliki faktor risiko terhadap gangguan ginjal seperti para manula dan penderita diapates. "Kalau salah konsumsi obat, bisa-bisa komplikasi ginjal akut."

Cara untuk meredakan sakit ginjal adalah mengurangi konsumsi makanan yang jadi pemicu beratnya kerja ginjal, seperti protein. Dharmeizar menjelaskan, untuk yang sudah tua atau penderita ginjal, sebaiknya konsumsi protein maksimal 50 gram protein. Lalu, rajin mengkonsumsi air perasan jeruk nipis. Kandungan sitrat dalam jeruk nipis bagus untuk menghambat pembentukan batu ginjal. Cek info kesehatan lainnya di sini.

DIANING SARI

Baca juga:
Obat Penderita Lupus Sulit Didapat
Satu dari Delapan Orang Amerika Bergigi Sensitif
Sundul Bola Bisa Sebabkan Cedera Otak
Keindahan Diplomasi Batik


10.19 | 0 komentar | Read More

Hati-hati, Lansia Jangan Banyak Minum Air  

Sabtu, 09 Maret 2013 | 03:47 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Minum air putih tampaknya adalah aktivitas yang biasa dan menyehatkan. Sedari kecil, guru dan orang tua selalu mengajarkan untuk banyak minum air putih demi kesehatan tubuh. Tapi konsumsi air putih ternyata bisa membahayakan, khususnya bagi orang tua. "Kalau sehari minum 2-3 liter, bisa jatuh hingga patah kaki," ujar dokter spesialis ginjal dan hipertensi, Parlindungan Siregar, dalam konferensi pers acara Hari Ginjal Sedunia, Rabu, 6 Maret 2013.

Patah kaki mungkin tak apa-apa bagi anak muda, tapi untuk para lansia, patah tulang artinya akan cacat di sisa hidupnya. Sebab metabolisme dan pemulihan sakit pada manula terjadi sangat lambat. Parlindungan menjelaskan bahwa meminum air putih yang tampaknya sederhana bisa juga menjadi penyebab hilangnya kesadaran yang berujung jatuh tiba-tiba.

Prosesnya adalah penurunan kadar natrium. Pada orang yang berusia di atas 50-60 tahun biasanya mereka memiliki kadar natrium yang rendah dalam darah, atau dikenal dengan hiponatremia. Selain itu, fungsi ginjal mereka pun sudah turun. Akibatnya, air putih yang masuk ke tubuh semakin menurunkan kadar natrium dalam darah. Secara perlahan, turunnya kadar natrium ini menyebabkan kantuk sehingga manula bisa tiba-tiba terjatuh.

Parlindungan memiliki seorang pasien manula yang selalu diantarkan keluarga karena acap jatuh. Ketika diteliti, ternyata sang nenek memiliki penyakit ginjal dan sering diminta untuk minum air putih oleh keluarganya. "Saya minta untuk dikurangi, keluarganya protes, tapi setelah dijelaskan, mereka pun menjalankan perintah," ujar Parlindungan. Tak lama, ia pun jarang melihat perempuan 70 tahun tersebut dibawa ke rumah sakit karena terjatuh.

Menurut Parlindungan, untuk usia lanjut di atas 50 tahun, konsumsi air putih maksimal hanya 1,5 liter. Angka tersebut diperoleh dari hasil penelitiannya sendiri sekitar 4 tahun silam terhadap para penghuni panti wredha di Jakarta. Cek info kesehatan lainnya di sini.

DIANING SARI

Baca juga:
Obat Penderita Lupus Sulit Didapat
Satu dari Delapan Orang Amerika Bergigi Sensitif
Sundul Bola Bisa Sebabkan Cedera Otak
Keindahan Diplomasi Batik


10.19 | 0 komentar | Read More

Konsumsi Obat Jenis Ini Bahaya Bagi Ginjal

Written By Unknown on Sabtu, 09 Maret 2013 | 10.19

Sabtu, 09 Maret 2013 | 03:02 WIB

TEMPO.CO, Jakarta--Banyak orang yang biasa mengkonsumsi obat bermerek di pasaran tanpa ada konsultasi dokter. Alih-alih ke dokter ketika terjadi sakit berulang, banyak pasien yang terus mengkonsumsi obat bermerek dan meningkatkan dosisnya. Padahal konsumsi tanpa pengawasan medis bisa membahayakan kinerja organ tubuh.

"Konsumsi analgetik, obat rematik, amfetamin yang berlebihan bisa mengganggu kerja ginjal, " ujar Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia Dharmeizar dalam acara konferensi pers peringatan hari Ginjal sedunia, Rabu, 6 Maret 2013.

Obat analgesik adalah obat peredam rasa sakit, seperti untuk obat sakit kepala, adapun obat rematik digunakan untuk meredakan nyeri penyakit rematik. AmKonsumsi dua jenis obat tersebut secara berkelanjutan, menurut Dharmeizar, harus dengan pengawasan dokter. Sebab kalau tidak bisa menyebabkan penyaki interstitial nephritis. "Menganggu daerah interstisium," kata dia.

Interstitial nephritis adalah gangguan ginjal yang terjadi pada daerah intersisium, daerah tersebut akan membengkak sehingga mempengaruhi kinerja ginjal. Gangguan ini bisa bersifat sementara atau berkelanjutan jika kondisinya memburuk. Menurut Dharmeizar, obat-obat jenis paracetamol cukup aman bagi ginjal. Asal konsumsinya juga tidak lama, maksimal 1 hingga 2 hari. "Tapi ya tetap harus periksa ke dokter," Ia mengingatkan.

Lalu untuk antibiotik, ada beberapa yang memang masuk nefrotoksik (meracuni ginjal). Sehingga bagi penderita ginjal atau siapapun juga, kata Dharmeizar : "Kalau mau konsumsi obat apapun, sebaiknya konsul ke dokter." Khususnya bagi mereka yang sudah memiliki faktor risiko terhadap gangguan ginjal seperti para manula dan juga penderita diapates. "Kalau salah konsumsi obat, bisa-bisa komplikasi ginjal akut."

Cara untuk meredakan sakit ginjal adalah mengurangi konsumsi makanan yang jadi pemicu beratnya kerja ginjal, seperti protein. Dharmeizar menjelaskan, untuk yang sudah tua atau penderita ginjal, sebaiknya konsumsi protein maksimal 50 gram protein. Lalu, rajin mengkonsumsi air perasan jeruk nipis. Kandungan sitrat dalam jeruk nipis, bagus untuk menghambat pembentukan batu ginjal. Cek info kesehatan lainnya di sini.

DIANING SARI

Baca juga:
Obat Penderita Lupus Sulit Didapat
Satu dari Delapan Orang Amerika Bergigi Sensitif
Sundul Bola Bisa Sebabkan Cedera Otak
Keindahan Diplomasi Batik


10.19 | 0 komentar | Read More

Hati-Hati, Lansia Jangan Banyak Minum Air

Sabtu, 09 Maret 2013 | 03:47 WIB

TEMPO.CO, Jakarta--Minum air putih tampaknya adalah aktivitas yang biasa dan menyehatkan. Sedari kecil, guru dan orang tua selalu mengajarkan untuk banyak minum air putih demi kesehatan tubuh. Tapi konsumsi air putih, ternyata bisa membahayakan, khususnya bagi orang tua. "Kalau sehari minum 2-3 liter, bisa jatuh hingga patah kaki," ujar dokter spesialis ginjal dan hipertensi Parlindungan Siregar dalam konferensi pers acara hari ginjal Sedunia, Rabu, 6 Maret 2013.

Patah kaki mungkin tak apa-apa bagi anak muda, tapi untuk para lansia, patah tulang artinya akan cacat di sisa hidupnya. Sebab metabolisme dan pemulihan sakit pada manula terjadi sangat lambat. Parlindungan menjelaskan bahwa, minum air putih yang tampaknya sederhana, bisa juga menjadi penyebab hilangnya kesadaran yang berujung jatuh tiba-tiba ini.

Prosesnya adalah penurunan kadar natrium. Pada orang yang berusia di atas 50-60 tahun biasanya mereka memiliki kadar natrium yang rendah dalam darah atau dikenal hiponatremia. Selain itu fungsi ginjal mereka pun sudah turun. Akibatnya air putih yang masuk ke tubuh semakin menurunkan kadar natrium dalam darah. Secara perlahan, turunnya kadar natrium ini menyebabkan kantuk sehingga manula bisa tiba-tiba terjatuh.

Parlindungan memiliki seorang pasien manula yang selalu diantarkan keluarga karena acap jatuh. Ketika ditelusuri, ternyata sang nenek memiliki penyakit ginjal dan sering diminta untuk minum air putih oleh keluarganya. "Saya minta untuk dikurangi, keluarganya protes, tapi setelah dijelaskan, mereka pun menjalankan perintah," ujar Parlindungan. Tak lama, Ia pun jarang melihat perempuan 70 tahun tersebut di bawa ke rumah sakit karena terjatuh.

Menurut Parlindungan, untuk usia lanjut di atas 50 tahun, konsumsi air putih maksimal hanya 1,5 liter. Angka tersebut diperoleh dari hasil penelitiannya sendiri sekitar 4 tahun silam terhadap para penghuni panti Wredha di Jakarta. Cek info kesehatan lainnya di sini.

DIANING SARI

Baca juga:
Obat Penderita Lupus Sulit Didapat
Satu dari Delapan Orang Amerika Bergigi Sensitif
Sundul Bola Bisa Sebabkan Cedera Otak
Keindahan Diplomasi Batik


10.19 | 0 komentar | Read More

Obat Penderita Lupus Sulit Didapat  

Written By Unknown on Jumat, 08 Maret 2013 | 10.19

Kamis, 07 Maret 2013 | 21:56 WIB

TEMPO.CO, Jakarta- Berbagai jenis obat murah untuk kalangan orang dengan lupus (odapus) di Indonesia sulit didapat di pasaran. Kelangkaan itu mengancam nyawa odapus yang seumur hidup harus bergantung pada obat. "Ada obat alternatifnya, tapi harganya sangat mahal, sementara odapus mayoritas dari kalangan kurang mampu," kata Ketua Syamsi Dhuha Foundation yang juga odapus, Dian Syarief, Kamis, 7 Maret 2013.

Masalah itu disampaikan perwakilan Syamsi Dhuha Foundation, odapus, dan kelompok peduli lupus ke Komisi IX DPR RI hari ini. Jenis obat yang langka itu obat generik untuk kalangan odapus tingkat ringan hingga berat, seperti pil kina, azathioprine, hydroxychloroquin, dan methotrexate. "Obat itu suka menghilang di apotek tanpa alasan yang jelas," ujar Dian.

Fungsi obat tersebut untuk mengurangi rasa sakit dan imuno supresan atau penekan antibodi. Sebab pada odapus, kata Dian, sistem tubuh menghasilkan antibodi berlebih sehingga menyerang jaringan dan organ. Karena selama ini obat penyembuh lupus belum ditemukan, odapus harus bergantung hidup dengan obat-obatan sementara yang ada di pasaran. 

Harga obat itu, kata Dian, misalnya azathioprine generik sebesar Rp 8.000 per butir. Kalau lupus sedang aktif, odapus harus memakan 4 butir obat itu per hari. Namun karena susah didapat, odapus harus membeli obat jenis mikofenolate mofetil yang harganya berkisar Rp 25 ribu per butir. "Kalau sebulan, biaya satu obat itu saja sudah Rp 3 juta, ini sangat memberatkan," katanya.

ANWAR SISWADI


10.19 | 0 komentar | Read More

Satu dari Delapan Orang Amerika Bergigi Sensitif

Jum'at, 08 Maret 2013 | 03:17 WIB

TEMPO.CO, Washington--Sebuah survei di Amerika baru-baru ini mengungkapkan satu dari delapan orang dewasa di sana mengalami gigi sensitif. Kondisi tersebut lebih sering ditemukan pada orang dewasa, wanita dan mereka yang mengalami masalah gusi atau yang memutihkan giginya sendiri di rumah.

"Kondisi ini mempengaruhi kehidupan seseorang dan mereka kemungkinan menghindari sejumlah makanan tertentu," ujar Dr. Joana Cunha-Cruz, peneliti asisten profesor di University of Washington dan ketua peneliti riset. Yang menjadi pemicu rasa nyeri adalah makanan dan minuman dingin, panas, manis, dan asam.

"Hanya saja, ini tak membuat mereka merasa kesakitan sepanjang waktu," kata Cunha-Cruz seperti dikutip situs Health Day 1 Maret 2013.

Gigi sensitif kemungkinan berlangsung selama beberapa minggu dan akan membaik beberapa minggu. Kata Cunha-Cruz, gigi sensitif terjadi ketika email gigi keluar, atau ketika jaringan antara gigi dan gusi yang disebut cementum, tidak ada, sehingga menyebabkan kotak kecil yang menghubungkan saraf-saraf di dalam gigi dan memicu keluar gigi.

Penelitian ini melibatkan 37 dokter gigi yang berpraktek di Washington, Oregon, Idaho, Montana dan Utah. Jumlah partisipan yang disurvei adalah 787 orang dewasa. Hasil riset ini muncul di Journal of the American Dental Association edisi Maret 2013.

Para dokter gigi itu menanyai pasien mereka apakah mereka merasa terganggu dengan rasa nyeri, sensitif atau tidak nyaman di gigi atau gusi. Kemudian para dokter gigi ini memerika pasien untuk memastikan bahwa rasa nyeri itu bukan disebabkan hal lain, seperti cavity, gigi berlubang atau gusi bengkak.

Sekitar 12 persen pasien mengalami nyeri atau sensitif pada gigi ternyata tidak ada kaitannya dengan problem lain, sehingga mereka didiagnosis dengan 'gigi sensitif'. Mengenali gejala ini, kata Cunha-Cruz, "memberikan para dokter gigi ide mengenai cara untuk mengatasi masalah tersebut saat berpraktek."

"Gigi sensitif adalah sesuatu yang universal, tetapi pada beberapa orang dan budaya, bisa menjadi lebih berisiko tergantung pada kebiasaan makan mereka, apakah sangat asam, dan apakah mereka minum wine atau alkohol," kata Dr. Richard Trushkowsky, wakil direktur dari International Aesthetic Dentistry di New York University. Ia tidak terlibat dalam riset ini.

Berbeda dengan pandangan para dokter gigi, Cunha-Cruz mengatakan bahwa studi ini tidak menemukan hubungan antara sikat gigi yang agresif dengan kecenderungan mengalami gigi sensitif.

Meski demikian, Trushkowsky merekomendasikan bahwa "Menggosok gigi dengan sikat yang lembut dan tidak menggunakannya secara horizontal, bisa membantu menurunkan risiko terkena gigi sensitif." Simak info kesehatan lain di sini.

HEALTH DAY I ARBA'IYAH SATRIANI

Baca juga:
Mahalnya Merawat Ginjal Rusak
Membentuk Payudara Indah dengan Bionik
Awas Ada Mikroba Jahat Penyebab Jerawat
Kurang Gizi Sebabkan Anak Pendek


10.19 | 0 komentar | Read More

Membentuk Payudara Indah dengan Bionik

Written By Unknown on Kamis, 07 Maret 2013 | 10.19

Kamis, 07 Maret 2013 | 03:31 WIB

TEMPO.CO , Jakarta: "Adakah perempuan yang ingin payudaranya kendur?" Sampai ke ujung dunia pun jawaban yang bakal muncul pasti "tidak ingin". Begitulah kenyataan yang ada. Semua wanita pasti mendambakan bentuk payudara yang indah dan kencang. Ukuran bisa sedang atau besar. Yang penting, itu tadi, tidak kendur alias melorot.

Dengan alasan agar payudaranya tidak kendur pula, ada juga perempuan yang ogah hamil, apalagi menyusui. Sebab, kehamilan dan menyusui memang merupakan faktor yang mempengaruhi bentuk dan ukuran payudara.

"Wanita pasti ingin bentuk payudaranya cantik dan ideal. Sebab, payudara merupakan organ vital pelengkap kecantikan," kata Dian Andriani, dokter spesialis kulit dan kelamin, dalam simposium Pearls of Cosmetic Dermatology di hotel Borobudur Jakarta, Ahad dua pekan lalu.

Saking inginnya mendapatkan ukuran payudara yang ideal, termasuk menambah ukuran, tak jarang perempuan melakukan tindakan berisiko. Salah satunya adalah menjalani operasi untuk menanam silikon di payudara. Toh, tak semua perempuan berani melakukan hal itu. Maklum, di samping prosedurnya dianggap menakutkan, operasi seperti itu memiliki berbagai efek samping, misalnya munculnya keloid alias jaringan kulit tambahan di tempat bekas luka operasi atau bentuknya tidak seperti yang diinginkan.

Menurut Dian, bentuk payudara yang ideal adalah yang kencang, penuh, berukuran sedang sampai besar, disertai dengan kulit yang lembut dan kenyal, dengan ukuran diameter areola (lingkaran gelap di sekitar puting) 3-5 sentimeter. Di luar bentuk yang ideal, ada perempuan yang memiliki bentuk payudara yang tidak simetris. Kasus seperti ini lazim terjadi. Literatur menyebutkan 7 dari 10 perempuan memiliki payudara yang tidak simetris. Meski tidak simetris, umumnya payudara tersebut normal alias tidak memiliki kelainan yang membahayakan.

Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi ukuran payudara, yakni genetik dan penyakit, perlakuan terhadap payudara, kehamilan dan menyusui, berat badan naik atau turun mendadak, serta posisi bahu dan punggung. Untuk faktor genetik, misalnya, karena orang tua memiliki bentuk payudara tertentu, anaknya juga akan memiliki bentuk payudara yang hampir sama dengan ibunya. Sedangkan perlakuan terhadap payudara yang bisa mempengaruhi antara lain kebiasaan tidak memakai kutang atau penyangga payudara. Lama-kelamaan, ya, payudara akan kendur.

Perawatan untuk mencapai bentuk dan ukuran payudara ideal yang selama ini kerap dipilih oleh kaum Hawa adalah berolahraga, pengolesan bahan-bahan yang diklaim dapat mengencangkan dan menambah ukuran payudara, penggunaan alat-alat tertentu, serta tindakan pembedahan. Namun, untuk pembedahan, itu tadi, ada sejumlah efek samping. Alhasil, mereka membutuhkan perawatan payudara yang efektif dan aman, tanpa pembedahan dan tanpa efek samping.

"Perawatan payudara non-invasif dengan teknologi bionik bisa dipertimbangkan," kata Dian, yang juga aktif di Pusat Kedokteran Anti-Penuaan Indonesia. Alat ini diklaim bekerja secara alami, tidak ada efek samping obat ataupun pembedahan, unik karena bekerja dengan menyeimbangkan hormon wanita, serta bisa meningkatkan ukuran payudara, mengencangkan, dan membentuknya.

Alat ini memiliki tabung dengan ukuran kecil, sedang, dan besar. Di dalam tabung itulah payudara akan diterapi agar sesuai dengan keinginan pasien. Alat ini bekerja dengan menggabungkan empat metode yang selama ini dipakai secara lepasan. Keempat metode itu adalah vacuum-release (sedot-lepas) yang berirama, stimulasi dengan aliran listrik mikro (microcurrent stimulation), pemijatan vibrasi, dan terapi foton.

Prinsip dasar sedot-lepas berirama adalah bila sel dipaksa untuk ekspansi akan terjadi multiplikasi lebih cepat dan volume jaringan bertambah. Nah, dengan adanya tekanan di payudara, jumlah sel pun akan bertambah dan ukuran payudara meningkat. Sedangkan aliran listrik mikro akan memunculkan efek magnet pada pembuluh darah sehingga aliran darah dan ikatan oksigen dalam darah meningkat. Listrik mikro juga akan merangsang kelenjar payudara menjadi aktif dan lemak payudara meningkat. Efeknya, kata Dian, "Payudara akan terangkat dan kencang."

Adapun vibrasi gelombang mikro akan membuat payudara yang semula tidak berkembang akan bertambah ukurannya. Gerakan yang kuat juga akan membuat otot-otot di payudara laksana dalam kondisi berolahraga. Khusus ihwal terapi foton, Dian menyebutkan, prinsip kerjanya adalah memanfaatkan sinar inframerah dan merah dalam mempengaruhi otot dan sel di payudara.

Selama empat bulan berpraktek di dua klinik di kawasan Bekasi, Jawa Barat, dan menggunakan alat ini, ratusan pasien yang ditangani Dian mengaku puas. Untuk pembesaran atau pengencangan, hasilnya signifikan setelah menjalani 20 kali terapi. Sekali terapi membutuhkan waktu setengah hingga satu jam.

Meski hasilnya menjanjikan, alat pembentuk payudara ini tak boleh digunakan oleh perempuan yang tengah hamil dan menyusui. Alat ini juga terlarang bagi mereka yang memiliki penyakit trombosis (pembekuan darah) akut atau pengguna pemacu jantung, metal implan, dan penyakit jantung lainnya.

Menilik cara kerja alat itu, menurut Irma Bernadette Simbolon, dokter spesialis kulit dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, payudara yang dibentuk dengan metode baru tersebut pasti tidak akan permanen hasilnya. Itu berarti, pasien membutuhkan terapi pengulangan. Hal itu berbeda dengan pemasangan implan ke payudara. Dian mengakui pernyataan koleganya itu. Untuk pemeliharaan, sebaiknya memang dilakukan terapi ulangan sekali dalam 2-4 minggu.

DWI WIYANA

Baca juga:
Lima Cara Tampil Cantik dan Irit
Begini Cara Mengusir Kusam di Wajah
10 Gaun Putri Diana Dilelang
Koleksi Siap Pakai, Proyek Masa Depan Anne Avantie


10.19 | 0 komentar | Read More

Mahalnya Merawat Ginjal Rusak

Kamis, 07 Maret 2013 | 04:18 WIB

TEMPO.CO , Jakarta: Mendengar kata cuci darah, tentu terbersit biaya yang mahal. Tapi sebenarnya berapa harga yang harus dibayar para penderita gagal ginjal ini untuk terus bertahan hidup? "Untuk cuci darah saja, rata-rata Rp 50-80 juta per tahun, tergantung rumah sakitnya," kata Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia, Dharmeziar, dalam konferensi pers menyambut Hari Ginjal Sedunia, Rabu, 6 Maret 2013.

Dharmeziar menuturkan dia memiliki pasien yang sudah menjalani cuci darah selama 20 tahun. "Dari dia punya anak, hingga sekarang anaknya masuk kuliah, bayangkan betapa besarnya," ujar dokter spesialis ginjal dan hipertensi ini. Biaya yang lebih murah, meski tetap juga lumayan adalah terapi peritoneal dialisis yang angkanya berkisar Rp 50 juta-Rp 75 juta per tahun.

Biaya tertinggi jatuh pada transplantasi ginjal, yang mencapai Rp 150 juta-250 juta. Sesudah operasi, penderita pun masih harus mengkonsumsi obat yang tidak murah juga. "Secara perlahan, biaya konsumsi obat, jauh lebih murah dari cuci darah dan dialisis, jika ginjalnya bekerja sempurna," ujar dia. Manusia memiliki dua ginjal yang beratnya masing-masing sekitar 100 gram.

Menderita sakit ginjal kronis tentu bukanlah cap yang menyenangkan. Tapi terkadang penyakit ini diabaikan karena gejala awal yang tak terdeteksi. "Penderita penyakit ginjal kronis tidak akan pernah normal," ujar dokter spesialis ginjal dan hipertensi Parlindungan Siregar.

Menurut Parlindungan, bagi penderita ginjal kronis hanya ada harapan untuk memperlambat proses kerusakan ginjal. "Karena kondisi ginjal bisa perlahan atau cepat untuk mencapai stadium akhir," jelas dia. Solusinya adalah dengan menghambat progesivitasnya. Misal untuk penderita ginjal kronis dengan tekanan darah tinggi atau gula darah tinggi, maka diberi perlakuan untuk mengendalikan kenaikannya.

Lalu, Ia menjelaskan, bisa juga mengurangi konsumsi protein yang memperberat kinerja ginjal. Secara hormonal, dokter memungkinkan untuk memberi terapi pada kelenjar paratiroid, kelanjar yang memproduksi hormon paratirod. Hormon ini bertugas mengaktifkan kadar kalsium dalam Kalsium sebagai mineral masih dibutuhkan tubuh dan ginjal untuk bekerja.

Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia Dharmeziar menjelaskan, masalah ginjal kronis adalah masalah utama penyakit ginjal yang sering tidak disadari. Penyakit ini ditandai dengan memburuknya kinerja ginjal yang memiliki laju filtrasi glomerolus ginjal sebesar 60 ml/menit lebih dari tiga bulan.

Ia menuturkan, memang tak ada gejala klinis yang bisa menunjukkan bahwa penderita mengalami penyakit ginjal kronis. Akibatnya, banyak pasien yang telat deteksi sehingga ketika diketahui penyakitnya, sudah mencapai empat dan lima. Sehingga terpaksa pasien pun wajib untuk menjalankan cuci darah hingga transplantasi ginjal.

Solusinya, Dharmeziar menyarankan, adalah mulai waspada terhadap kondisi ginjal dengan semakin bertambahnya usia. Khususnya mereka yang sudah memiliki faktor risiko seperti berusia lanjut, penderita diabetes, hipertensi, dan perokok. "Mulailah cek darah rutin dan cek tes celup urin," kata dia.
DIANING SARI

Berita Terpopuler:

Lalai, Ashanty pun Terserang Radang Otak
Tes Napas Deteksi Kanker Pencernaan 
Bermain-main dengan Kreativitas 
Sundul Bola Bisa Sebabkan Cedera Otak
Keindahan Diplomasi Batik 
Zat Besi Dapat Mengurangi Gejala PMS


10.19 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger