Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Tidur Sejam Lebih Awal Tangkal darah Tinggi

Written By Unknown on Rabu, 05 Desember 2012 | 10.19

Selasa, 04 Desember 2012 | 22:53 WIB

TEMPO.CO, Boston - Pergi tidur satu jam lebih awal dari biasanya bisa membantu untuk menangkal tekanan darah tinggi, menurut sebuah studi terbaru. Peneliti menemukan orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda awal dari tekanan darah tinggi mampu mengembalikan tekanan darah menjadi normal hanya dalam enam minggu setelah mereka mengambil tambahan jam tidur setiap malam.

Penelitian, yang dilakukan di Harvard Medical School di Boston, Amerika Serikat, melihat pria dan wanita yang secara teratur tidur hanya tujuh jam atau kurang dan mulai memiliki  kecenderungan darah tinggi.

Kurang tidur dan gaya hidup stres telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko darah tinggi.

Dalam studi ini, peneliti merekrut 22 pria paruh baya dan wanita yang baik memiliki prehipertensi, dengan angka tekanan darah tak  terlalu tinggi tetapi telah meningkat dan berada pada target untuk mencapai tingkat berbahaya. Para relawan semua mengaku tidur tujuh jam atau kurang semalam.

Selama periode enam minggu, 13 dari mereka diberitahu untuk memperpanjang pola tidurnya dengan menambahkan tidur satu jam lebih awal dari biasanya. Sisanya disuruh menjalani rutinitas normal terkait jam tidur. Mereka semua mengenakan monitor untuk memeriksa tekanan darah mereka, selain menjalani pemeriksaan darah dan urin juga.

Hasilnya, yang dipublikasikan dalam Journal of Sleep Research, menunjukkan kelompok yang jam tidurnya diperpanjang tekanan darah mereka rata-rata turun antara 8 hingga 14mmHg.

Diperkirakan terlalu sedikit tidur mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menangani hormon stres yang bisa menaikkan tekanan darah. "Temuan awal harus ditafsirkan dengan hati-hati. Penelitian di masa depan harus melihat apakah meningkatkan durasi tidur berfungsi sebagai strategi yang efektif dalam pengobatan hipertensi," saran penelitian ini.

MAIL ONLINE | TRIP B


10.19 | 0 komentar | Read More

Mengapa Orang Miskin Lebih Pendek Umur?

Rabu, 05 Desember 2012 | 05:10 WIB

TEMPO.CO , London: Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Namun, uang dapat membantu seseorang terhindar dari efek buruk stres dan perasaan tidak bahagia. Demikian penelitian terbaru di Inggris tentang hubungan kekayaan materi dan tingkat stres terhadap panjang umur seseorang.

Penelitian itu menemukan, orang kaya yang stres hidup lebih lama dibandingkan orang miskin yang juga stres. Temuan ini mengonfirmasi betapa buruknya kombinasi faktor kemiskinan dan stres bagi kesehatan manusia.

"Dua efek itu ibarat ''bom''," kata Antonio Ivan Lazzarino, peneliti di University College London, Inggris, Selasa, 4 Desember 2012. Menurutnya, gabungan kemiskinan dan stres bisa meningkatkan peluang angka kematian seseorang.

Desain penelitian tidak memerinci seberapa lama umur seseorang jika dia kaya dan stres dibandingkan miskin dan stres. Penelitian, yang diterbitkan dalam jurnal Archives of Internal Medicine, juga belum dapat menjawab alasan orang kaya dapat menolerir stres lebih baik secara biologis.

"Kami hanya menemukan hubungan antara kekayaan, stres dan kematian. Tidak berarti membuktikan sebab akibat," ujar Lazzarino.

Tim peneliti memeriksa lebih dari 66.500 responden di Inggris yang berusia 35 tahun atau lebih pada 1994-2004. Seluruh responden tidak ada yang memiliki penyakit kanker atau jantung selama mengikuti delapan tahun penelitian.

Para responden ditanyai seputar pekerjaan. Misalnya, apakah mereka tergolong pekerja tidak terampil atau memegang posisi manajerial; apakah mereka memiliki gejala kecemasan, depresi, tidak percaya diri, atau disfungsi sosial.

Seluruh data kemudian diolah secara statistik. Faktor jenis kelamin dan usia sebagai pemicu kematian, dikesampingkan. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa responden yang miskin dan tertekan akan meninggal lebih awal.

"Memiliki lebih banyak uang bisa mengurangi dampak buruk stres. Sedangkan pendapatan rendah akan menguatkan efek merugikan dari stres," kata Lazzarino.

Profesor Glyn Lewis, pakar epidemiologi psikiatri di Universitas Bristol di Inggris, tidak terkejut dengan temuan tersebut. Ia mengatakan orang miskin memang memiliki lebih sedikit cara untuk memerangi stres.

Sebagai contoh, jika mobil rusak, orang kaya mampu menyewa mobil baru atau memperbaikinya secara cepat, atau memiliki asuransi untuk mengatasinya. "Anda tidak akan terlalu stres jika memiliki cukup uang untuk keluar dari kondisi itu," ujar Lewis, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Lazzarino membenarkan argumen Lewis. Ia mengatakan, orang kaya memiliki alternatif yang lebih baik untuk mengelola tekanan hidup. Selain itu, penelitian sebelumnya menunjukkan, orang kaya memiliki sistem kardiovaskuler yang lebih terjaga. Kondisi ini membuat orang kaya lebih cepat pulih dari dampak stres akut yang berpotensi merusak jantung.

Penelitian ini diakui masih perlu banyak perbaikan. Namun, Lazzarino mengatakan, temuan ini dapat membantu peneliti memperbaiki alat mengukur stres. Sebab, stres sangat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang. "Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, pemeriksaan tingkat stres mungkin sangat berguna dan menghemat biaya," ujarnya.

PHYS | MAHARDIKA SATRIA HADI

Berita Lainnya:
Cara Bugar dengan Latihan Sirkuit
Hipertensi Dapat Mengubah Kinerja Otak 
Waspadai Penuaan pada Sistem Kekebalan Tubuh 
Gerakan Mata Bisa Tunjukkan Skizoprenia
Mau Hindari Penyakit? Cuci Tanganlah  


10.19 | 0 komentar | Read More

Prediksi Obesitas Sejak Anak dalam Kandungan  

Written By Unknown on Selasa, 04 Desember 2012 | 10.19

Senin, 03 Desember 2012 | 13:52 WIB

TEMPO.CO - Sebuah penelitian menyebutkan bahwa bibit obesitas sudah dapat diketahui sejak bayi atau sejak dalam kandungan. Penelitian yang dipublikasikan di PLos One ini menerapkan serangkaian tes dengan formula sederhana guna memperkirakan keadaan bayi dalam kandungan.

"Dengan penggunaan formula persamaan yang diperoleh berdasarkan data setiap orang yang baru saja melahirkan,  kami dapat memprediksi sekitar 80 persen anak-anak yang memiliki bibit obesitas," ujar Professor Philippe Froguel dari Imperila College London, yang memimpin penelitian ini.

Menurut Froguel, pencegahan adalah suatu strategi yang paling ampuh dalam melawan obesitas. "Sekali obesitas, seorang anak akan sulit menurunkan berat badannya," ujar Froguel. Anak yang obese memiliki faktor risiko yang sangat besar untuk menderita diabetes tipe II dan penyakit jantung.

Imperial College London melakukan penelitian secara berjangka terhadap 4 ribu anak yang lahir sejak tahun 1986 dan data tambahan yang diperoleh dari dua penelitian sebelumnya terhadap 1.500 anak di Italia dan 1.000 anak di Amerika Serikat. Dari hasil penelitian itu, mereka memperoleh hasil beberapa fakta sederhana, seperti berat lahir dan ibu yang merokok rentan memiliki anak yang obesitas.

Dalam penelitian sebelumnya disebutkan bahwa faktor genetik memberikan pengaruh yang lebih besar untuk anak menjadi obesitas. Meskipun begitu, penelitian tersebut tidak bisa digeneralisir. Sebab, hanya ada 10 kasus obesitas yang dihasilkan dari mutasi gen yang dapat mempengaruhi selera makan.

Angka obesitas pada anak-anak semakin meningkat ketika NHS memperkirakan bahwa 17 persen anak laki-laki dan 15 persen anak perempuan di Inggris memiliki kelebihan berat badan. Faktor risiko untuk obesitas telah diketahui, tapi baru kali ini faktor tersebut diformulasikan secara bersama-sama.

CHETA NILAWATY | CNN

Terpopuler:
Pendengaran Terganggu? Bisa Jadi Anda Diabetes
Tidur Lebih Ampuh Ketimbang Obat 
Susan Budihardjo: Imajinasi dari Komik
Kalau Orang Dewasa Main Perang-perangan


10.19 | 0 komentar | Read More

Pria Cacat Bau Punya Sedikit Pasangan

Selasa, 04 Desember 2012 | 07:04 WIB

TEMPO.CO, Jakarta -Pria yang lahir dengan cacat tak bisa membau ternyata memiliki mitra seksual jauh lebih sedikit dibandingkan pria normal. Namun berdasarkan penelitian baru-baru ini, wanita yang memiliki gangguan yang sama menjadi lebih aman.

Para peneliti tak tahu pasti mengapa kesulitan untuk romantis bisa dihubungkan dengan kemampuan membau. Tetapi mereka mengatakan kemungkinannya adalah orang dengan gangguan anosmia ini merasa tidak aman setelah kehilangan sinyal emosional sepanjang hidup mereka.

"Banyak sinyal sosial dipengaruhi oleh saluran penciuman. Dan mereka yang punya gangguan ini mungkin kehilangan itu," kata pemimpin penulis Ilona Croy, psikolog Universitas Gothenburg, Swedia. Menurut Croy, gangguan ini menyebabkan kehidupan sosial mereka canggung. Sebagai hasilnya, pria mungkin tidak cukup percaya diri untuk mencari mitra baru. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Biological Psychology.

Sebuah bukti kuat menunjukkan bahwa manusia secara sadar mengirimkan emosi melalui bau. Sebuah studi pernah menemukan bau akan ketakutan itu menular. Orang ternyata dapat membedakan antara keringat gugup dan keringat olahraga. Maka sinyal bau tersebut dapat mempengaruhi dalam memilih pasangan.

Tim juga meneliti temuan mereka berdasarkan gender. Pria yang dapat membau rata-rata dilaporkan memiliki 9 mitra seksual selama hidupnya. Sedangkan pria anosmic hanya memiliki 3. Namun, bagi wanita tak ada perbedaan dalam jumlah pasangan seumur hidup.

Gagasan tentang gangguan anosmia menyebabkan hilangnya hubungan sosial secara halus memang bukan mengada-ada. "Mungkin saja kita bertukar informasi lebih banyak melalui bau badan secara tidak sadar," ujar Thomas Hummel, peneliti Smell and Taste Clinic di Universitas Dresden, Jerman.

Secara umum, mereka yang mengalami anosmia malah lebih aman dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak tahu apakah mereka memiliki bau mulut, bau badan atau tinggal di apartemen yang tak sedap. "Mereka mengembangkan rutinitas tertentu seperti mandi dua kali sehari, menyikat gigi tiga kali sehari. Rutinitas itu hanya untuk menjauhkan diri dari kelompok orang-orang yang bau," katanya.

LIVE SCIENCE | ISMI WAHID

Berita Terpopuler
Pendengaran Terganggu? Bisa Jadi Anda Diabetes
Tidur Lebih Ampuh Ketimbang Obat 
Prediksi Obesitas Sejak Anak dalam Kandungan 
Susan Budihardjo: Imajinasi dari Komik
Kalau Orang Dewasa Main Perang-perangan


10.19 | 0 komentar | Read More

Tip Sehat bagi Pnderita Obesitas

Written By Unknown on Senin, 03 Desember 2012 | 10.19

Minggu, 02 Desember 2012 | 12:32 WIB

TEMPO.CO , Jakarta - Menjaga keseimbangan antara pola makan dan aktivitas merupakan cara sederhana untuk mengatasi obesitas. Yang paling penting adalah kemauan dan niat yang keras. Begitu pun dukungan dan perhatian orang-orang di sekitar mereka. "Jangan biarkan mereka tergoda makan saat sedang diet," ujar Samuel Oentoro, spesialis gizi klinis. Menurut Samuel, para penderita obesitas disarankan berolahraga tiga sampai lima kali dalam sepekan dengan intensitas minimal setengah jam agar lemak dalam tubuh bisa terbakar sempurna. Di luar itu, mereka juga harus mengatur pola makan dengan menerapkan pakem 4J: jumlah, jadwal, jenis, dan jurus memasak.

Jumlah: kurangi seperempat porsi dari kebiasaan makan. Dengan cara itu, setengah sampai satu kilogram berat badan akan turun dalam waktu satu pekan.

Jadwal: Makan secara teratur tiga kali sehari. Para penderita obesitas dilarang mengudap makanan kecil di antara jadwal yang ditentukan.

Jenis: Pilih karbohidrat kompleks yang mengandung serat, seperti nasi merah dan roti gandum. Perbanyak makan sayur dan buah-buahan agar peningkatan karbohidrat terjadi secara perlahan. Hindari penggunaan karbohidrat simpleks yang terdapat dalam gula pasir, gula jawa, sirup, dan tepung-tepungan. Hindari protein yang terdapat dalam daging merah. Protein yang sehat adalah protein hewani dan nabati, seperti yang ada dalam ikan, ayam (kulitnya jangan dimakan), tahu, tempe, dan putih telur. Lemak yang harus dihindari adalah keju, margarin, kuning telur, santan, cumi, udang, kerang, kepiting, jeroan, otak, hati, daging sapi, dan daging bebek. Lemak yang bagus dapat diperoleh dari berbagai jenis ikan laut dalam, minyak zaitun, dan kedelai.

Jurus memasak: Prinsipnya, semua makanan tidak boleh diolah menggunakan minyak goreng. Jika ingin menumis, gunakan minyak zaitun. Jangan memanaskan langsung di wajan. Tuangkan minyak itu setelah tumisan diangkat dari wajan.

RIKY FERDIANTO | NATALIA SANTI

Terpopuler:
Rokok Dilarang Cantumkan Merek di Australia
Gas Plasma Mampu Membunuh Sel Kanker
Jember Fashion Carnaval Akan Hadirkan 200 Talenta
Perang Pembebasan Sandra di Hutan Bandung
Tangis Bayi Mendeteksi Potensi Autisme Anak
Hindari Flu, Berhenti Menyentuh Hidung dan Mulut
Awas Obesitas
Cara Bugar dengan Latihan Sirkuit
Jalan Kaki ke Sekolah, Tingkatkan Konsentrasi Anak
Mengenal 10 Gangguan pada Kaki


10.19 | 0 komentar | Read More

Pendengaran Terganggu? Bisa Jadi Anda Diabetes

Senin, 03 Desember 2012 | 07:55 WIB

TEMPO.CO, Tokyo - Benar bahwa diabetes terkait dengan peningkatan risiko penyakit ginjal dan masalah kardiovaskular, kerusakan saraf dan kehilangan penglihatan. Kini, penelitian di Jepang menemukan penderita diabetes dua kali lebih mungkin mengalami gangguan pendengaran dari yang lain.

Dalam tinjauan atas penelitian terdahulu mengenai hal ini, yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism, para ilmuwan menemukan bahwa penderita diabetes yang lebih muda memiliki risiko lebih tinggi daripada mereka yang lebih tua. Namun, para ilmuwan tak menjelaskan penyebabnya.

"Meta-analisis saat ini menunjukkan bahwa prevalensi yang lebih tinggi pada gangguan pendengaran di antara pasien diabetes dibandingkan dengan pasien nondiabetes konsisten tanpa memandang usia," tulis pemimpin peneliti, Chika Horikawa, di Fakultas Kedokteran Niigata University.

Ini bukan pertama kalinya peneliti telah menemukan hubungan antara diabetes dan gangguan pendengaran. Pada tahun 2008, peneliti dari US National Institutes of Health (NIH) melihat pola yang sama dalam sampel lebih dari 11.000 orang. Temuan NIH menyebutkan, orang-orang dengan diabetes dua kali lebih mungkin untuk memiliki gangguan pendengaran.

Diperkirakan bahwa kadar gula darah tinggi akibat diabetes dapat menyebabkan gangguan pendengaran terkait pembuluh darah yang rusak dalam telinga, kata Horikawa.

Horikawa dan rekan mengumpulkan informasi dari 13 studi sebelumnya yang meneliti hubungan antara diabetes dan gangguan pendengaran yang diterbitkan antara 1977 sampai 2011. Secara keseluruhan, tim Horikawa menemukan bahwa penderita diabetes adalah 2,15 kali lebih mungkin untuk memiliki gangguan pendengaran. Tapi ketika hasilnya dipecah oleh usia, orang di bawah 60 tahun memiliki 2,61 kali risiko sementara mereka yang berusia di atas 60 tahun memiliki 1,58 kali lebih berisiko.

Beberapa ahli mengingatkan bahwa studi semacam ini tidak membuktikan bahwa diabetes secara langsung bertanggung jawab untuk tingkat kerusakan pendengaran yang lebih besar.

REUTERS | TRIP B


10.19 | 0 komentar | Read More

Tangis Bayi Mendeteksi Potensi Autisme Anak

Written By Unknown on Minggu, 02 Desember 2012 | 10.19

Minggu, 02 Desember 2012 | 08:23 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Providence - Potensi autis pada bayi lagi-lagi diteliti. Kini penelitian baru menunjukkan bahwa tangisan atau teriakan bayi dapat memberi petunjuk apakah mereka berada pada resiko autis sejak umur 6 bulan.

Para peneliti mencatat teriakan dari 39 bayi berumur 6 bulan. Dua puluh satu diantaranya berada pada resiko autisme karena memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa. Sementara sisanya adalah bayi sehat tanpa riwayat autisme.

Sebuah analisis yang dibantu dengan komputer menunjukkan tangisan bayi pada kelompok resiko tinggi autisme ternyata lebih sering dan lebih bervariasi daripada bayi yang tak beresiko autisme. Hasil ini berlaku hanya ketika tangisan tersebut disebabkan oleh rasa sakit. "Seperti ketika bayi jatuh atau kepalanya terbentur" ujar Stephen Sheinkopf, seorang peneliti di peneliti di Brown Alpert Medical School''s Women & Infants Hospital in Providence, Rhode Island.

Tetapi perbedaan dalam tangisan bayi autis tak bisa dideteksi oleh telinga biasanya. "Jadi ini bukan sesuatu yang orang tua harus mendengarkan tangisan itu. Kami tak ingin orang tua menjadi cemar karena tangisan bayi mereka," ujar Sheinkopf.

Pada saat anak-anak itu berumur 3 tahun, tiga dari mereka didiagnosis memiliki autisme. Saat bayi dulu, ketiga anak ini memiliki teriakan dengan frekuensi tertinggi. Mereka juga memiliki teriakan yang terdengar lebih tegang dan lebih bising ketika dibaca dalam komputer.

Temuan menunjukkan bahwa tangisan bayi pada umur 6 bulan dapat digunakan untuk menentukan resiko bayi autisme sejak dini. Tentu dengan faktor-faktor lain juga.

LIVE SCIENCE | ISMI WAHID

Berita Lain:
Para Lelaki Ini Penggila K-Pop
Para Penggila K-Pop
Kisah Buruk 8 Selebritas K-pop dengan Penggemar
Resep Psy Sukses Ajak Dunia Naik Kuda


10.19 | 0 komentar | Read More

Hindari Flu, Berhenti Menyentuh Hidung dan Mulut

Minggu, 02 Desember 2012 | 09:08 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Saat musim demam dan flu, kita diingatkan untuk sering mencuci tangan. Tujuannya agar tangan steril dari kuman influenza. Tapi ternyata sekedar mencuci tangan saja tidak cukup. Sebuah penelitian mengungkapkan jika ingin terhindar dari flu mulailah berhenti menyentuh hidung dan mulut.

Setiap saat orang menyentuh mulut atau hidung mereka. Sebenarnya di saat itu mereka tengah memindahkan bakteri dan virus dari tangan ke wajah mereka. Proses ini disebut inokulasi mandiri (self-inoculation), yaitu perpindahan kuman-kuman dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya. Ini adalah cara utama penyebaran kuman dari permukaan yang terkontaminasi ke wajah seseorang, dan dari orang yang sakit ke permukaan benda yang sering tersentuh.

"Ada banyak kesempatan antara episode mencuci tangan yang dilakukan seseorang dengan terkontaminasinya lagi tangan mereka," kata Dr. Wladimir Alonso, peneliti National Institutes of Health in Bethesda, Maryland, Amerika, sebagaimana dilansir dari situs Today Health, Jumat 30 November 2012.

Dalam penelitiannya, Alonso dan timnya secara acak memilih 249 orang di tempat publik, yaitu di subway Washington DC, Amerika; dan di Florianopolis, Brazil. Peneliti mengobservasi mereka, mencatat seberapa sering mereka menyentuh permukaan benda di tempat umum lalu menyentuh mulut atau hidung mereka.

Hasil penelitian yang dipublikasikan 15 November di jurnal Clinical Infectious Disease ini mendapatkan bahwa partisipan menyentuh wajah mereka rata-rata 3,6 kali setiap jam. Selain itu mereka juga menyentuh benda-benda umum rata-rata 3,3 kali setiap jam.

Peneliti mengatakan rata-rata sentuhan itu memberi arti bahwa partisipan lebih cenderung mendapat kuman di tangan mereka dibanding mencuci tangan. "Penting untuk memahami mekanisme dasar dimana penyakit ditansmisikan untuk meraih manfaat penuh mencuci tangan," kata Alonso.

Rekomendasi yang dikeluarkan ke publik umumnya menekankan pentingnya cuci tangan. Tapi, kata peneliti, selama penyakit parah potensial untuk mewabah, pesan seharusnya ditekankan untuk memastikan bahwa masyarakat memahami bagaimana inokulasi mandiri terjadi, juga menghindari menyentuh wajah mereka. "Jika virus pernapasan mematikan ada di sekitar, cara tersebut benar-benar harus diperhitungkan," ujar Alonso sambil menekankan terjadinya pandemik flu burung pada 2009.

Meskipun begitu, Alonso mengatakan mengetahui seberapa sering inokulasi mandiri terjadi seharusnya tidak lantas membuat orang jadi murung, merasa tidak nyaman, dan terus-menerus dalam keadaan siaga. Sistem kekebalan tubuh, kata dia, menawarkan perlindungan yang baik melawan penyakit. "Tapi penting untuk menyadari bahwa terkontaminasi lagi dapat terjadi sangat cepat setelah kita mencuci tangan," ujarnya.

TODAY HEALTH/AMIRULLAH

Berita Lain:
Tangis Bayi Mendeteksi Potensi Autisme Anak
Emosi Seseorang Lihat dari Bahasa Tubuhnya
Gas Plasma Mampu Membunuh Sel Kanker
Perang Pembebasan Sandra di Hutan Bandung


10.19 | 0 komentar | Read More

Hati-Hati dengan Senyum Pria

Written By Unknown on Sabtu, 01 Desember 2012 | 10.19

Sabtu, 01 Desember 2012 | 04:45 WIB

TEMPO.CO, Jakarta--Lain kali jika ada seorang pria tersenyum pada Anda, wanita, berhati-hatilah. Bisa jadi, ia akan membuat Anda patuh padanya. Hasil penelitian terbaru mengungkapkan semua pria melakukan hal ini pada wanita dan wanita pun dengan senang hati melakukan yang diminta pria. Dalam tiga percobaan, para ilmuwan meneliti bagaimana dampak senyum pria pada persepsi wanita mengenai pria tersebut dan bahasa tubuhnya.

Ketika pria menduduki posisi dominan, dalam eksperimen, pria memberi para wanita instruksi dan mereka mematuhinya. Hal ini lebih sering terjadi jika para pria itu menyeringai kepada wanita. Ini adalah kasus yang kemudian terang-terangan dinyatakan sebagai pernyataan seksis, setelahnya.

Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of Granada di Spanyol ini juga menemukan bahwa wanita berasumsi postur yang lebih terarah dan berkhidmat saat seorang pria tersenyum pada mereka. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa persepsi kehangatan pria adalah alasan untuk perilaku para wanita.

Ahli bahasa tubuh, Patti Wood seperti dikutip situs Daily Mail 29 November 2012, mengatakan bahwa temuan tersebut menganggu tetapi hal itu bisa jadi karena wanita lebih bersandar pada bahasa tubuh ketimbang pria untuk membuat keputusan. "Bahkan jika ada ketidaksesuaian antara yang dikatakan dengan yang dilakukan oleh tubuh, wanita akan melihat bahasa tubuh," ujar dia. "Jika mereka melihat senyuman, kemudian interaksi tersebut akan terasa lebih bersahabat."

"Ini adalah situasi yang sulit dan seseorang yang lebih mengutamakan seksisme akan terganggu dengan interaksi ini," ujar Wood lagi.

Karena itu, Wood menyarankan para wanita yang tidak ingin tertipu oleh senyum pria, khususnya ketika berada di tempat kerja, harus mengetahui yang mereka inginkan sebelum bertemu pria. Hal tersebut akan meningkatkan bahasa tubuh wanita dan proses komunikasi tersebut sekaligus menurunkan tingkat ketegangan yang memunculkan kecemasan.

Tip lain yang disampaikan Wood adalah, lihatlah diri Anda sendiri, berhenti untuk menghindari kontak mata dan berhenti tersenyum terlalu banyak untuk diri sendiri. "Tersenyum bisa membuat wanita menjadi lebih rendah (posisinya). Jika Anda tersenyum ketika memberikan pernyataan penting, hal itu membuat pernyataan tersebut menjadi lebih lemah," ujar wanita yang berdomisili di Amerika Serikat ini.

Wood juga menyarankan agar wanita lebih memperhatikan perilaku mereka secara umum dan tidak hanya memperhatikan bahasa tubuh pria saja. "Pikirkan mengenai pesan verbal sebelum merespon sesuatu. Jika dia mengatakan sesuatu yang seksis dan Anda tersenyum atau menciut, berarti dia bisa lolos dengan cara itu."

DAILY MAIL I ARBA''IYAH SATRIANI

Baca juga:
Janin Menguap Ungkap Perkembangan Otak
Rumus Memprediksi Bayi Kelak Terkena Obesitas
Pria Berperut Buncit Rawan Osteoporosis
HijUp Model Look, Ajang Pencarian Model Muslimah
Diet Karbo Bisa Perbaiki Kualitas Sperma


10.19 | 0 komentar | Read More

Ingin Hindari Flu? Berhentilah Sentuh Wajah

Sabtu, 01 Desember 2012 | 09:28 WIB

TEMPO.CO, Maryland - Kebanyakan orang secara tak sadar mengantarkan sendiri bakteri dan virus. Tim dari National Institutes of Health di Bethesda, Maryland, mengatakan sering menyentuh wajah bisa membuat mereka sakit, kendati mereka telah sering mencuci tangannya. Menyentuh mulut dan hidung dengan tangan yang terkontaminasi, akan mengantarkan virus dan bakteri langsung masuk ke dalam tubuh.

"Ada banyak kesempatan di antara cuci tangan episode bagi orang untuk kembali mencemari tangan mereka," kata pemimpin studi, Dr Wladimir Alonso.

Dr Alonso dan rekannya secara acak memilih 249 orang untuk diamati di tempat umum di kereta bawah tanah Washington DC dan di Florianopolis, Brasil. Mereka menemukan bahwa orang menyentuh benda-benda lain rata-rata 3,3 kali per jam dan wajah mereka 3,6 kali per jam.

"Oleh karena itu kita akan mendapatkan kuman di tangan kita jauh lebih cepat daripada cuci tangan," ujarnya.

Dr Alonso mengatakan bahwa selama wabah flu, orang harus diingatkan untuk mencoba dan menghindari menyentuh wajah mereka serta mencuci tangan mereka secara teratur.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Clinical Infectious Diseases.

DAILY MAIL | TRIP B


10.19 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger